Jumat, 29 November 2013

ASAP DAN BUSUR HUJAN: Sebuah kisah klasik cinta Bocah Melankolis


ASAP DAN BUSUR HUJAN
Sebuah kisah klasik cinta Bocah Melankolis

Negeri Hijau
            Suatu hari, tinggalah seorang Bocah bernama Jimi. Predikat Melankolis menempel pada dirinya setelah ia melewati fase dimana Menangis dan Mengeluh adalah jawaban mendasar atas rasa sakit hidup di Dunia Fana. Di Negeri Hijau, sebutan suatu lahan yang dipenuhi oleh segerombolan masa yang mengatasnamakan dirinya Pasukan Tempur untuk Negara. Negeri Hijau ini hanya sebuah sebutan untuk lahan yang diperuntukan manusia-manusia bermental baja.
            Hari ini gelap, suasana kelam diiringi syair-syair nyanyian pemujaan dewa kematian Lux Ferre, dewa kegelapan Baphomet dan Moloch sang Dewa Kejijikan. Tinggallah disebuah rumah semi modern yang dditinggali oleh Jimi sang Bocah Melankolis. Walau dirinya mendapat predikat si Bocah Melankolis, namun selera musik yang ia dengar amat sangat menyeramkan.
            Jimi, mengapa ia selalu terlihat muram dan gelisah tiada tara, ternyata jawabannya adalah sebuah Kegalauan anak muda masa kini. Jimi, mengapa kau selalu bersedih? Mengapa kau tak pernah cerita tentang segelimet permasalahan dalam kehidupanmu? Hey,. Jim! Sadarlah, ini dunia yang fana, bila kau tunfuk olehnya maka Neraka tujuan akhirmu. Itu mungkin sepenggal dari kisah hidup Jimi yang memang sangat menghargai budaya Tutup Mulut bangsa Sisilia, sebut saja Omerta.


Jimi: Riang dan Gembira
            Hello, aku Jimi, aku adalah anak yang mendapat predikat Melankolis, mengapa begitu? Akupun tak bisa menyimpulkannya dengan tepat, sekedar menjalani predikat yang aku rasa tidak salah. Lantas mengapa akhir-akhir ini aku merasa senang dan gembira ya? Oiya, aku akan memperkenalkan seorang Putri Manis yang Mungil dari Negeri Busur Hujan, panggil saja dia Rain. Aku pertama kali melihatnya disebuah perkumpulan besar disekolahku yang baru, kini aku sudah tidak bersekolah di kawasan Pacinan, ya tempat yang terkenal akan para pedagang-pedagang kelontongan, sayuran hingga bahan bangunan. Awalnya tidak ada pertanda apa-apa sesaat aku memandangi wajah Rain, namun lama-kelamaan aku merasakan sentuhan Astral bahwa dia ini Unik. Rain, sang Puteri Mungil dari Negeri Busur Hujan, mengapa kau sangat terlihat menarik, walau dalam keadaan yang tidak seharusnya terlihat menarik. Rain, mengapa kau selalu tampak riang dan bersinar bagai mentari pagi yang menyinari Dunia Fana ini? Oh, Rain, aku benar-benar jatuh cinta pada dirimu.
            Singkat cerita, aku bertemu Rain pada saat yang tidak diprediksi, spontan dan mengapa langsung jatuh hati padanya? Seharian setelah hari pertama aku dan dia bertemu, aku memikirkannya, walau keesokan harinya aku tidak membayangkannya lagi. Waktu pertemuan yang lebih sering membuat perasaan kagum itu berubah drastis menjadi perasaan yang sesungguhnya, Jim ya anak Melankolis yang mencintai musik pemujaan Setan kini menemukan tambatan Hati. Alangkah senangnya hatiku disaat kudapat menatap wajahnya, raut wajah yang riang dimana setiap aku meliriknya terasa sejuk seluruh tubuhku, bagaikan Busur Hujan yang menghiasi Dunia Fana ini.


Kaget, Kesal dan Kecewa.
            Aku Jimi, aku sangat kecewa dihari itu, hari dimana aku saksikan dengan mata dan kepalaku sendiri, sang pujaanku Rain, ternyata dia telah dimiliki seseorang. Malam hari bila kutak salah, aku sengaja mencari identitasnya di dunia maya, dunia dengan segudang informasi baik itu real dan kongkret dan kebanyakan hanya bullshit dan cerita fiktif. Aku melihat biography nya dan tertulis disana nama orang yang telah mendapatkan dirinya. Oh, Rain mengapa ini semua harus kurasakan? Berhari-hari aku bayangkan kita dapat berjalan bersama melewati Jembatan Tulip, jembatan yang selalu dilewati muda-mudi yang kasmaran hingga melupakan bahwa mereka hidup ini di Dunia Fana, hanya mereka berdua.
            Semenjak hari itu, pikiranku kacau, otakku tak pernah waras. Hingga suatu ketika aku memutuskan kembali ke tempat lama ku, sebut saja Trotoart, sebuah kedai bir yang terletak tidak jauh dari sekolahanku yang baru di Utara Negeri Angin. Mengapa ini harus menimpa hidupku? Mengapa disaat aku menemukan orang yang kurasa dapat menerimaku dis ekolah baru ini, tapi sudahlan, untuk apa meratapi apa yang telah terjadi. Kini setiap jejak langkahku akan selalu terbayang namanya, wajahnya dan perilakunya yang unik dan menarik.

Hey, Jim. Ini waktunya Unjuk Gigi.
            Setelah ratapan rasa sedih yang tak kunjung padam akhirnya aku mendapatkan kesempatan pergi bersama Rain. Suatu hari dimana Ia mengajakku untuk menonton pagelaran filem horor empat dimensi di sekolah Gajah. Kuniatkan diri dari rumahku di Negeri Hijau, bahwa hari ini adalah saat yang tepat untuk menunjukkan semua yang aku rasakan selama ini kepada dirinya, ya Rain sang Puteri Mungil dari Negeri Busur Hujan, ah tak kuasa ku membayangkan wajahnya yang Unik nan Cantik Jelita.
            Tibalah aku disana, berjalanlah kami bertiga, karena ia ditemani temannya. Sial, hari ini aku kaku banget, sepatah kata pun sulit untuk ku keluarkan saat bertatapan dengan dirinya, ini adalah fase yang sangat berat bagiku, karena sudah lama sekali aku tidak menyukai seorang wanita. Hari berjalan seperti film Negeri Garuda yang statis dan kurang menarik. Aku ingin bersegera mengakhiri semua pertemuan ini, untuk apa aku pikir, bnila kita bertemu namun aku tak mampu berkata apapun kepadanya.
            Rain, kurasa diriku ini memang belum pantas bersanding dengan dirimu yang aku rasa kamu itu paket komplit weorang manusia dimasa kini. Kamu cantik, lucu, unik dan tidak telat menjalankan perintah Agama. Oh, Jims yang malang, aku hanya bisa meratapi kenyataan yang kurasakan kini.


Jims, apakah ini episode terakhir mu dengan Puteri Busur Hujan?
            Titik terakhir seorang jims tiba. Aku sudah tidak dapat menahan rasa sakit yang mendalam ini, rasa dimana harus menahan perasaan untuk dapat bersanding bersama si Mungil dari Negeri Busur Hujan. Oh, Tuhan, jika memang ini jalan yang terbaik, aku akan melakukannya dengan tulus dan tanp[a kusesali dikemudian hari.
            Jims, ini adalah sebuah komitmen yang berat untuk dilakukan, dimana aku harus rela melepaskan dirinya. Disini aku sadar, bahwa Rain memang tidak pantas untuk diriku, aku ini anak yang nakal;, sukanya merokok, minum minuman beralkohol, menjalankan perintah Tuhan belum sebaik dirinya dan aku ini apa? Aku ini bagai seongggok daging yang tertancap diujung tombak, tidak berharga.
            Rain, jika kau mengerti bagaimana rasa sakit yang kupenam sejak dulu, mungkin kau akan kasihan melihatku. Maafkan aku, Rain. Bukan maksudku mundur karena aku lemah atau bukan Pria, namun ini pilihanku atas apa yang kuketahui tentang dirimu. Aku Jalang dan kau Penerang, aku Setan dan kamu itu Bidadari. Batas waktu antara dunia maya dan fana belum dapat terlepas dari ahri-hariku. Maafkan aku Rain, lewat tulisan jellek ini aku hanya bisa mengeluarkan apa yang aku rasakan selama ini. Namun asal kau tahu, aku akan terus menunggu dirimu hingga aku benar-benar dapat melupakan semua tentang dirimu.

UNTUK RAIN SANG PUTRI NEGERI BUSUR HUJAN
AKU JIMI, DAN AKU SANGAT MENYAYANGIMU
CINTAKU TULUS APA ADANYA
KETULUSAN CINTA ADALAH KUNCI KEABADIAN
HARTA, HANYA AKAN MENJADI PEMUTUS KEABADIAN
CINTA TULUS DAN JANJI SUCI SELALU KUKIRIMKAN LEWAT DOA-DOA KU
DENGAN TULUS KUUCAPKAN UNTUKMU
AKU CINTA PADAMU RAIN

Minggu, 24 November 2013

MENJILAT LUDAH: EPISODE TERINDAH


BAGIAN 1
Persiapan Sebelum Medan Laga
Hari Jumat, bila datang hari ini, tiba-tiba terketuk dalam hati untuk bersujud kepada Sang Maha Pencipta, Tuhan saya, Alloh SWT. Seperti yang saya tahu hari ini adalah hari segudang rejeki dan limpahan karunia Tuhan. Tepat hari ini saya dan teman-teman Pend. Sejarah UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) akan bersiap untuk menghadapi fase terakhir dari rangkaian proses kaderisasi untuk menjadi anggota dari Himpunan Sejarah UPI, atau lebih akrab disebut Warga HIMAS UPI. Semua orang berbondong-bondong mencari barang-barang yang akan dipergunakan esok hari, dimana kita akan menuju sebuah tempat yang didisein oleh Tuhan menjadi sebuah daerah resapan air juga tumbuhnya pepohonan terkhusus Pohon Kina. Sebut saja tempat itu Bukit Unggul, sebuah tempat penangkaran Kina di daerah Lembang, Utara Kota Bandung. Saya pribadi sudah menyiapkan semua perlengkapan untuk esok hari mengikuti PAB. Apa itu PAB? Pasti menjadi sebuah pertanyaan yang terngiang di telinga kita, karena mungkin singkatan ini jarang digunakan dibeberapa organisasi atau perkumpulan, PAB adalah singkatan dari Pengukuhan Anggota Baru, karena kami Pend. Sejarah tahun 2013 sedang menjalani rangkaian pengkaderisasian untuk menjadi Warga HIMAS.
PAB ini adalah sebuah final day untuk kita menjadi Warga di Himpunan yang bisa dibilang tertua di UPI. Kuliah pun berakhir di hari jumat yang cerah ini, saya dan teman-teman berkumpul dengan para pemandu juga teman-teman untuk membicarakan kelengkapan esok hari. Banyak sekali kegalauan yang saya lihat dari raut wajah teman-teman saya. Banyak dari mereka memang tidak mempunyai perlengkapan untuk menjelajahi alam,. Namun, seiring berjalannya waktu serta usaha yang mereka lakukan pertolongan pun datang, akhirnya semua telah memiliki kelengkapan untuk mengikuti masa akhir atau fase terakhir untuk menjadi warga di HIMAS.
Tepat pukul lima sore saya berangkat dari rumah saya dibilangan Pasir Kumeli, Cimahi menuju kampus di kawasan Setiabudhi. Cuaca gak bersahabat banget, sob. Hujan yang mengguyur dengan rapih terus-menerus seharian tanpa istirahat sedikit pun, sepertinya ini pertanda bahwa Dunia ini udah renta, manusianya udah bobrok, IQ tinggi moral dan akhlak nol. Itu aja sih yang bisa saya simpulin, jadi Dunia ini menangis, hihihi. Back to the track, saya pun dengan menaiki Si Murder X, sebutan untuk motor matic pabrikan Jepang dengan merek Yamaha yang Ayah saya miliki yang saya gunakan sehari-hari, saya pun menuju kampus dalam keadaan hujan yang rada santai, alhamdulillah Tuhan sayang sama saya. Perjalanan yang kira-kira menghabiskan waktu 30 menit pun telah saya lewati, ditemani guyuran hujan yang unyu-unyu dengan membawa sebuah tas ransel khas Tentara Nasional Indonesia milik Ayah saya. Saya pun tiba di kampus kesayangan saya, Bumi Siliwangi.,haha lebay. Tibalah saya di PKM sebuah gedung yang memang difungsikan untuk para Mahasiswa UPI. Baru saja tiba langsung saya dipertemukan oleh Tim Evaluasi (untuk yang membaca tulisan saya sebelumnya, dibagian lain tulisan ini saya akan membahas bagaimana sebenarnya mereka, dan semua itu jauh dari apa yang saya tulis ditulisan saya sebelumnya) saya pun ditanya-tanya kesiapan juga perlengkapan yang saya bawa, semua lengkap saya bawa hanya saja saya lupa membawa alat sholat.
Akhirnya, semua peralatan, mental juga fisik sudah tersiapkan. Tinggal menunggu final day nya, dan bayangan saya mengenai PAB ini adalah sesuatu yang menyeramkan, seperti adegan-adegan pembunuhan di film-film ala sutradara hollywood. Malam pun tiba saya kembali pulang dengan ditemani cuaca dingin Kota Bandung serta rintik-rintik hujan yang seakan menemani kesendirian saya.



Bagian 2
Final Day: Bergulat dengan Lalat
Tiba juga hari yang saya bayangkan sebagai Hari pembantaian, sebuah hari dengan penuh teriakan-teriakan kesakitan ala Neraka di film-film layar lebar, hahaha. Sial, itu yang saya rasakan dihari ini, kenapa karena saya telat datang ke kampus gara-gara salah baca sms. Tertulis di sms itu kumpul pkl 5.20 pagi, dan saya melihatnya 6.20 dengan santai saya berlama-lama di kamar mandi, karena memang sudah beberapa lama ini saya susah buang air besar, hahaha. Tepat pkl 6.25 saya cabut dari rumah saya menaiki si Oldskool, motor antik milik Ayah saya, karena jujur saya belum mampu beli kendaraan pribadi. Lalulintas sangat support kepada saya sabtu pagi itu, jalanan sepi layaknya Pekuburan Bangsa Belanda, jarang banget orang lalu-lalang dengan kendaraan mereka yang memberikan asupan CO2 ke Udara. Sampai lah saya di Bumi Siliwangi, dengan menyimpan motor di Bank BNI UPI, karena kakak saya bekerja sebagai teller disitu. Berlarilah saya, dramatisasinya kayak film Flash, ngebut dan tetep aja dimarahin kan telat, sial! Haha semper nurunin mood untuk lanjut, tapi yaudahlan masalah sepele.
Setelah berkumpul, kita pun bersiap menuju tempat pelantikan kita di Bukit Unggul dengan menggunakan Truk. Oiya saya lupa, kami disini berpakaian layaknya Segerombol Masa Pecinta Alam, mengenakan Kaos putih panjang, seperti aliran Jaina yang menghindari membunuh (Ahimsa) celana PDL (Cargo Pant), syal berwarna Merah seperti Si Bolang dan topi Rimba ala Indiana Jones. Kekompakan mulai terasa, hangatnya persaudaraan pun mulai muncul, senang sekali saya rasakan hari ini. Mungkin ini momentum paling bersejarah di dunia Pendidikan Tinggi, begitu dalam benak saya. Perjalanan dipenuhi dengan yel-yel ala anak-anak tahun 2013, semua hepi seakan-akan melupakan pemikiran buruk nan kelam mengenai berita PAB yang hingar-bingar seliweran terdengar di telinga.
Sampai lah kami di lokasi PAB yang diberi titel MAKAR Camp 2013, wuiiih, Makar, serem ya. Hahaha. Kami pun mulai dididik ala disiplin militer, dengan teriakan khas kakak angkatan, asik banget nih hari kita berasa lagi dalam pendidikan ketentaraan, serba disiplin, jauh dari apa yang saya lakukan selama ini. Baru sampai di lokasi Camp, saya sudah dibikin kesel sama yang namanya Lalat, binatang yang dianggap jijik karena sukanya hinggap di Kotoran-kotoran, termasuk Hasil dari proses kimiawi manusia, iya Tai Manusia, hahaha. Mengapa lalat tidak sepintar Burung Kakak Tua yang hinggap di jendela ya? Sudahlah ngapain jadi mikirin itu, Lalat udah jelas Lalat, kodratnya jadi Lalat gakbisa dibandingin sama Burung yang Kodratnya hinggap di Jendela. Haha. Lalat sialan ini kerjaannya ngeganggu saya terus, udah tau lagi dibarisin, eh nih laler ganggu terus, takutnya kan kena semprot kakak-kakak, nanti saya kena marah lagi. Soalnya saya udah janji gak akan bikin ulah sampai proses kaderisasi berakhir, itu pesan yang tertanam didiri saya, setelah teman-teman mengampuni kesalahan saya yang terkahir ada masa kaderisasi di kmapus, maaf ya men-temen, Wii Khilaf.
Beres pergulatan dengan lalat sialan tadi, saya dan teman-teman semua satu angkatan mulai untuk mendirikan tenda, dan setelahnya memulai memasak untuk makan siang. Yihaaaa, disini perasaan giting mulai timbul, berasa flying high, men. Kita mulai kebersamaan dan lain-lain di fase ini, kekompakan dan lain sebagainya. Kebeneran, saya satu kelompok dengan para manusia-manusia khas, ada Fais si bicah Indramayu yang super Kocak, Reno anak Ciwidey yang khas, Riski anak Guung Batu dengan keeksotisan Brewok semacam Ridho Rhoma, Agung si KM kelas A, Abdul Ajiz seorang anak Jakarta dengan gagah beraninya menginjakkan tanah Viking, hahaha, Renaldi ini yang berbahaya, Si Beliau ini adalah Ketua Angkatan 2013, gilee serem ya kelompok saya dan yang terakhir, Acep sang Master Chef. Itulah tadi nama-nama temen-temen satu kelompok saya saat PAB ini. Kalo saya gausah dideskripsiin ya, mungkin anda semua yang baca dua tulisan terakhir saya sudah tahu ciri-ciri dan kekhasan saya.
Tenda pun berdiri kokoh bagai benteng Berlin, eh Tempok Berlin ya. Tibalah waktu untuk memasak, dan Sang Master Chef pun mulai bertindak. Pesan yang saya tangkep di acara masak ini adalah kekompakan kita dalam keterbatasan, dan mensyukuri sekecil apapun nikmat yang Tuhan berikan untuk kita, jangan pernah milih-milih atau sampai parahnya berprasangka buruk kepada Tuhan. Makan siang beres, dan kita pun beristirahat untuk persiapan sholat Dzuhur.


Bagian 3
Final Day: Perjalanan Menyenangkan
Setelah selesai menjalankan ibadah, kami dipersiapkan untuk menjalankan misi perjalanan siang, melewati lima pos yang masing-masing diisi oleh Bidang-bidang yang ada di dalam HIMAS. Mulai di pos 1, saya diberikan penghargaan tentang Kepemimpinan, karena disitu saya harus dapat mempercayai sang pemimpin, ya ketua kelompok, sdr Reno. Karena saya dan teman-teman ditutup matanya, dan harus mencari kertas terbungkus plastik disekitaran kita tanpa melihat plus harus diambil tanpa menggunakan tangan kita, melainkan anggota tubuh lain. Pos 2, disini seru, soalnya saya kena lagi kesialan, saya emang susah buat ngehafal lirik. Lirik SLAYS aja, kadang saya lupa, oiya SLAYS itu nama band saya, bisa di follow @SLAYSUCKS, hehe jadi iklan.
Disini saya diminta untuk menyanyikan yel-yel mellow buatan kelompok, dan hasilnya mengecewakan saya lupa lirik. Tapi di pos ini saya dituntut untuk mengasah tajam intelejensi. Masuk Pos 3, lagi-lagi kena sial, saya kembali disuruh menyanyikan yel kelompok yang ceria, dan saya gak hafal lagi liriknya. Hahaha. Disini kekompakan kembali dituntut, dimana kebersamaan harus dapat dijalani tanpa menyakiti satu sama lain. Pos 4,  gak jauh beda dari pos 1 inti dari apa yang kami lakukan dan pos 5, ini pos terakhir perjalanan siang, dan disini agak seru, soalnya kita diminta untuk Orasi dihadapan Pohon mengenai prosesi Kaderisasi kami. Hal konyol pun terjadi disaat sebuah pilus, makanan dengan ukuran sebesar 6x kapsul obat harus dioper-oper lewat mulut, lo bayangin men, bibir ke bibir itu jaraknya gak jauh dari 1cm, parah, parah bener dah, gapengen lagi. Hahaha


Bagian 4
Perjalanan Sesungguhnya: Malam Tanpa Bintang, Hati sangat Gundah, Perut Keroncongan, namun Ini Memorable.

Dini hari kami sudah dibangunkan oleh suara teriakan orang-orang yang memaksa membangunkan kita dari istirahat malam yang menenangkan. Entah apa salah kami, perasaan baru saja memejamkan mata, eh udah harus bergerak lagi. Disini saya gak heran, karena emang kita sedang dalam sebuah prosesi penobatan istilahnya, dimana sistematika yang harus dilewati ya semacam ini, perjalanan malam. Perjalanan ini dimotori oleh kakak-kakak angkatan mulai dari 2010. 2009, 2008, 2007, 2006 dan Alumni yang tahunnya sangat terpecah-pecah. Satu pertanyaan didalam diri saya yang
terus merasuki otak yang mulai error ini, nanti bakal diapain ya? Ditampar kah? Ditonjok? Dikasih hadiah hal yang mengenakkan lah pokonya yang udah terbayang di kepala. Namun semua pertanyaan itu gak akan pernah kejawab kalo kita gak coba hadapi kan? Akhirnya saya pun beranjak dari dalam tenda yang sempit dan hangat untuk mengikuti rentetan prosesi penobatan.
Atas  nama Maharaja Sriwijaya, ini pertama kalinya saya jalan-jalan dengan memakai kaos satu biji doang, men. Bisa-bisa masuk angin dalam hati berkata, tapi gak apa-apalah, toh kalo sampai saya sakit masih ada medis. Hahaha. Oke, pengalaman jalan malam sebelumnya saya dapatkan di perjalanan menuju Puncak Mahameru di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Lumajang, Jawa Timur pada akhir tahhun 2012 lalu. Disana saya have fun, walau keadaan sangat jauh berbeda dari perjalanan dan track hari ini di Bukit Unggul. Tapi, tak apalah,, pengalaman itu sangat dibutuhkan sebagai makhluk hidup, apa kalian mau saat mati nanti tidak bisa mengilustrasikan bagaimana dunia? Tidak kan, maka dari itu carilah ilmu dan pengalaman sebanyak mungkin.
Perjalanan pun dimulai, dengan memasuki pos angkatan 2010, disini Kepemimpinan yang sangat diharapkan oleh para kakak tingkat, karena memang dalam sebuah organisasi atau menejemen diri sendiri, sikap dan sifat kepemimpinan kita itu sangatlah penting, jangan mudah terintervensi oleh orang yang gak jelas, teguh pendirian, sob. Pos 2, disini diisi oleh angkatan 2009, dalam hati sudah seram melihat kakak-kakak yang sangar-sangar, namun setelah diberi beberapa pertanyaan, motivasi dan akhirnya inti dari persoalan di pos ini adalah mengajarkan bagaimana Menyelesaikan Suatu Masalah dan Intelektual. Hujan pun datang mengguyur, sembari menunggu reda kami masih stay di pos 2. Selesai hujan, kami lanjut menuju pos 3 yang diisi oleh angkatan 2008, baru datang kita sudah diberi hadiah kasing sayang, yaitu push up. Ini pengalaman pertama kali push up dini hari dalem hutan dan asa konyol aja, hahaha. Sehabis itu kami diberikan games yang sebenernya untuk menunjukkan Sifat Kepemimpinan seorang Pemimpin yang sebenarnya, pemimpin yang diterima anggotanya, pemimpin yang bisa mengajak anggotanya kearah yang lebih baik, pemimpin yang disayangi anggotanya dan pemimpin yang tidak kenal suatu perbedaan. Contoh kongkret di dunia ya semacam Bapak Joko Widodo, mantan Walikota Solo yang sekarang menjabat sebagai Gubernur Jakarta, keren gak tuh? Pemimpin yang disayangi rakyatnya.
Masuklah kita di pos 4, dimana disini diisi oleh kakak-kakak dari 2007, gak banyak aneh-aneh disini, kita cuman dikasih bimbingan bahwa kita akan dan pasti suatu saat mendapatkan cobaan, yakni memutuskan suatu perintah atau pilihan di dunia ini dan hanya bisa kita putuskan dalam waktu yang singkat. Setelahnya kita pun merayap menuju pos terakhir yang letaknya diatas kami, jadi kami merayap dengan penuh semangat membara di dalam dada, dan hasilnya enak, asli enak banget, men. Sesampai di pos terkhir ini, kita disambut oleh kata-kata hina, yakni mau di gampar gak sama kita? Hahaha parah kan? Gak juga ya? Oke deh, next kita pun dikasih games gotong royong yang namanya push up berantai, ini seru men pengen lagi kapan-kapan. Nah di pos ini saya udah keburu lupa moral value nya apa, soalnya tulisan ini kelamaan saya bikin dari saat PAB lalu, jadi maklum ya. Saya terlalu sering mengkonsumsi apa yang tidak seharusnya dikonsumsi, hehehe.


Bagian 5
Episode Terindah: Bukit Unggul, tempat Kelahiran Kita. Ya Warga HIMAS terlantik di tahun 2013. Cerdas, Militan dan Progresif.
Akhirnya, kami pun dapat mengakhiri semua gundah gulana kerisauan hati kita semua masalah PAB, setelah kita berhasil melampauinya. Dibagian ini, saya rasa adalah akhir dai segala rasa sebel sama kakak tingkat dn sebagainya lah, dan ini adalah pintu gerbang menuju kehidupan bermasyarakat yang sebenarnya. Diawali dari prosesi yang sangat menyakitkan kita pun akan mendapatkan buah yang sesungguhnya. Suatu kemanangan itu tidak ada yang didapatkan dengan Cuma-Cuma, semua butuh proses, seperti Ulat, untuk menjadi Kupu-kupu yang Cantik dia harus melewati fase-fase dahulu, ya seperti itu lah kita, karena Metamorfisis itu sangat kita butuhkan dalam kehidupan. Lewat organisasi resmi sekelas HIMAS ini, saya dapat kembali memetik banyak nilai moral dalam kehidupan, oleh karenanya penyesalan saya dahulu terbayar semua dengan apa yang terjadi hingga akhirnya saya pun meneteskan air mata bahagia, air mata haru, dan juga air mata kemenangan.
Pagi hari ini kami semua merasakan rasa senang telah dapat menyelesaikan rangkaian proses kaderisasi. Semua terlihat dapat melebarkan raut bibir mereka, semua terlihat senang bukan kepalang. Kita pun diberi hadiah khas dari para kakak-kakak angkatan kita, hingga akhirnya kita semua melepas name tag, topi dan syal yang menandakan berakhirnya prosesi kaderisasi, dan kita? Ya kita adalah pemenangnya, we’re the winner in this game.
Jujur saja, mungkin setelah umur 13, saya mungkin hanya meneteskan air mata tiga kali, saat Kakek dari Ayah saya meninggal, Saat Nenek Buyut dari Ibu saya meninggal dan Hari ini, ya hari dimana saya dilantik menjadi anggota dari Keluarg Besar Himpunan Mahasiswa Pendidikan Sejarah di UPI. Hari ini, adalah hari kelahiran kita, hari dimana angkatan 2013 dapat melewati ribuan rintangan yang menghalau didepan wajah, yang seakann-akan terus menggerogoti kepercayaan diri juga semangat. Aneh memang bila bicara mengapa kita bisa melewatinya, padahal dalam hati kita selalu ngedumel dalem hati, ya itu memang mungkin sebuah proses, dinamika dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan ini saya Dwi Nur Akbar Wijaksono untuk Bangsa Indonesia, dan untuk semua orang yang saya kenal, semoga setelah melewati ini saya akan menjadi pribadi yang jauh-jauh lebih baik dari sebelumnya.


Prolog
Dibagian ini saya akan menceritakan mengapa saya menuliskan tulisan ini. Tulisan ini didasari dari rasa malu saya, rasa senang saya sekaligus perasaan yang tak dapat saya ungkapkan lewat kata-kata. Terlalu banyak dinamika dalam menjalani kaderisasi, saya mengakui kebanyakan dari kesalahan saya semasa di kader itu murni kesengajaan, oleh karenanya setelah melewati hari pengukuhan saya tersadar, bahwa yang namanya hidup itu adalah proses, gak ada enak tanpa susah. Contohnya gakan ada orang sukses tanpa usaha yang keras, gak putus asa dan mental tempe bahkan mental kerupuk yang kalo kebanjur air langsung kempes, melempem.
Saya, dengan berat harus mau menjilat kembali ludah yang telah saya keluarkan di tulisan-tulisan saya sebelumnya, dimana isinya penuh dengan hujatan dan rasa kesal. Mungkin waktu pada saat itu saya masih dalam suasana pancaroba, atau peralihan dari SMA ke Mahasiswa, jelas jauh perbandingan secara Intelektual antara anak remaja dan anak dewasa. Oleh karena hal tersebut saya amat sangat merasa bersalah, dan ucapan terimakasih tak ayal akan selalu saya lontarkan untuk orang-orang yang telah mensupport saya dan mengkader saya menjadi manusia yang baik dimasa yang akan datang.
Dari awal masuk pendidikan sejarah UPI, saya sudah sangat tidak tertarik dengan apa yang disebut organisasi, mau itu himpunan mahasiswa disetiap jurusannya, atau ukm. Jujur saja, saya memang anaknya begajulan, seenaknya lah istiahnya dan susah untuk mengikuti peraturan yang berlaku di suatu tempat, maka dari itu saya masih terus mencoba beradaptasi ditempat yang baru ini.
Harapan saya kedepan setelah semua yang telah saya alami, pasti adlah kehidupan yang lebih baik, semoga dengan apa yang telah saya lakukan selama ini menjadi sebuah berkah bagi diri saya pribadi, dan akan menjadi sebuah acuan untuk diri saya menjadi jauh lebih baik dari sebelum-sebelumnya. Ini sebuah wadah baru untuk saya menyalurkan ekspresi saya lewat karya seni kontemporer, saya tidak menyesali gagal masuk desain murni ITB, saya tidak menyesali gagal saat tes UGM mengambil Kehutanan, karena mungkin memang disini jalan hidup saya di Pendidikan Sejarah Universitas Pendidikan Indonesia.
­­            Ini adalah sebuah tulisan yang saya dedikasikan untuk teman-teman Pendidikan Sejarah Universitas Pendidikan Indonesia tahun 2013 dan juga seluruh orang-orang yang telah berperan dalam pembentukan diri saya menuju arah yang lebih baik. Tulisan ini teruntuk semua Kakak-kakak Angkatan dari awal Pendidikan Sejarah lahir hingga sampai waktu yang tidak diketahui nanti.
Ini untuk semua orang-orang yang saya cintai, sebuah Episode Terindah, di dalam hidup saya, sebuah pengalaman serta kelahiran diri saya yang baru, atau bisa dibilang sebuah metamorfosis dari saya yang lalu menjadi saya yang terbaharui. Kutuliskan ini untuk semua yang telah mengisi diri saya menjadi saya yang terbaharui.


MENJILAT LUDAH: EPISODE TERINDAH.
Ini adalah sebuah episode terakhir perjalanan Mahasiswa Baru pada masa kaderisasi untuk bergabung didalam wadah besar Mahasiswa. Segala suatu hal yang mungkin akan terjadi dimasa endatang akan saya coba kembali tulisakan, karena peristiwa-peristiwa penting akan selalu diingat dan dikenang bila ada sebuah tulisan yang mendokumentasikannya. Oleh karena itu, saya Dwi Nur Akbar Wijaksono dengan ini menutup Jurnal dimasa menjadi seorang Mahasiswa Baru.

NO BULLET CAN STOP YOUR DREAMS.

Senin, 11 November 2013

HEROISME, SAMPAH MASYARAKAT


Berbicara mengenai hal-hal heroik, seperti yang biasa kita saksikan dilayar lebar, dimana heroisme adalah tindakan terpuji dan digambarkan oleh para Superhero atau Agen-agen Kebanggan Negara hingga Prajurit Jaman Kuno. Namun kini mungkin hal-hal heroik yang biasa kita saksikan itu hanyalah sebuah cerita fiksi belaka. Jaman kini heroisme itu ada di tangan para Preman dan Kongsi Jahat para pelaku Pemerintahan. Mereka akan muncul ke permukaan dikala situasi dan kondisi memaksa mereka keluar dengan seenaknya mengatasnamakan diri mereka Sang Pahlawan. Ya, mereka seperti membuat skenario tingkat Hollywood, dan anehnya kita seakan-akan dibutakan walau mendengar. Mengerikan, bayangkan saja kalau para Preman dan Penjahat Bertopeng Emas itu menguasai dunia? Sepertinya apa yang biasa kita lihat di layar lebar bisa saja terjadi, dimana kekuatan-kekuatan hebat atas dasar ilmu hitam dan misi terselubung.
Baiklah, mungkin tadi terlalu jauh untuk terpikirkan oleh akal sehat. Kita ini udah jadi konsumen setia para sineas Hollywood, bro. Back to the track, masalah heroik atau kepahlawanan atau penjaga perdamaian dunia, kini udah susah banget kita rasain. Mereka kebanyakan muncul disaat waktu yang gak tepat, atau terkadang tiba-tiba datang bagai malaikat bersayap dengan kekuatan magiz supernatural. Satu aja sih harapan saya mengenai heroisme, dimana para Sampah Masyarakat yang ambil kendali, mari buka mata, hati dan telinga. Sadarlah, banyak penjahat menjadi pahlawan jaman Kali Yuga ini. Waspadalah… waspadalah…


Saya FATxWII, mengucapkan Selamat Hari Pahlawan.
Semoga para Pahlawan tidak menangis dengan apa yang terjadi kini.
Saya yakin mereka memantau kita lewat perangakt Parabola dialam sana.

Minggu, 03 November 2013

TANPA DASAR: DIAM KINI BUKAN EMAS


            Hari minggu pagi yang cerah kudapati hari ini. Berjalan melewati lorong dengan ratusan komputer yang berjajar, sebut saja Xenos, sebuah warnet game online langganan ku dan teman-teman sepermainanku untuk menghabiskan malam minggu yang kelam, tanpa tambatan hati. Sebenernya hari ini saya males banget buat mengikuti kegiatan Kaderisasi. Sebab semalam saya menghabiskan waktu bermain game online plus menonton pertandingan Liverpool melawan Arsenal via streaming. Dan hasilnya pun mengecewakan, Liverpool kalah 2-0 dari Arsenal yang bertanding di markas Arsenal, Emirates Stadium di London. Tak terasa kuhabiskan malam disana, tepat pada pukul 06.00 pagi saya pulang kerumah, dan bersiap menuju kampus. Lagi-lagi hanya tidur sekitar duapuluh menit saja. Perjuangan berat melampaui sebuah kewajiban Mahasiswa Baru.
            Bumi Siliwangi sebuah tempat dimana saya menuntut ilmu, kini ku berada disana dalam keadaan setengah sadar, hahaha. Jujur saja, saya bisa mengikuti kegiatan hari ini itu berkat seseorang yang menyemangati saya, ya ada perempuan yang saya suka. Dia teman satu angkatan dengan saya. Jangan sebut namanya, takut yang ada malah menjadi makin semrawut, karena memang kita dipisahkan oleh berbedaan kelas. Diawali dengan berkumpul di daerah lapangan berdebu, kami masih meraba-raba, kegiatan seperti apa yang akan dilalui hari ini. Ternyata kita diberikan waktu untuk show off kemampuan bakat kita, baik individu maupun kelompok. Satu per satu para kelompok telah maju untuk mementaskan hal kreatif mereka, berikut diseling oleh penampilan dari Panitia.
            Pentas pun berakhir, jujur saja pementasan ini terasa sangat aneh, kurang menghibur, namun sisi positifnya disini kami satu angkatan bisa saling berdekatan, layaknya sebuah persatuan. Waktu sudah mmulai agak siang, sekitar pkl 10.00 lah, kita diberikan perlengkapan dan bahan membuat rujak (makanan khas yang terdiri dari buah-buahan segar dengan bumbu gula merah, dicampur asem, garam,  cabe rawit/cengek dan kacang tanah) suasana kekeluargaan pun terasa hangat, ya walau saya pribadi merasasakan rasa kantuk yang luar biasa.
            Hari ini tepat hari kesialan kedua saya. Setelah minggu lalu terlambat datang ke sidang, kini saya harus mempertanggungjawabkan hasil tugas minggu kemarin. Ngomong-ngomong soal tugas, saya tidak keberatan, yang memeberatkan hanyalah prosesi tes yang dilakukan didepan teman-teman satu angkatan. Kebodohan saya pun seketika muncul ke permukaan, beberapa pertanyaan mampu saya jawab, sisanya? Saya hanya terbelalak dengan tatapan kosong. Saya menyesali sikap Panitia yang mengetes saya didepan teman-teman, karena bila saya sampai tidak bisa menjawab, itu sama saja saya mengorbankan mereka untuk menyelamatkan saya. Dimana sisi kemanusiaan? Sosialismenya dimana? Saya pun kembali hanya terdiam, dengan kondisi teman-teman yang terus dihujani omongan-omongan penuh motivasi layaknya mario teguh.
           
#KECEWA
            Mengapa hari ini saya mementingkan acara ini, dimana saya kembali menjadi terdakwa yang dengan rasa kantuk yang menghantui terus tertekan. Hari ini saya membatalkan kepergian saya ke Solo, demi menonton pertunjukan, suatu festival musik tahunan di Solo, sebut saja Rock In Solo. Saya melewatkan kesempatan emas, dimana saya bisa bertatapan langsung dengan band black metal asal Polandia, BEHEMOTH. Pembatalan kepergian saya dilandasi pengumpulan tugas yang harus saya serahkan hari ini, dan saya menghargai teman-teman yang menyayangi saya. Tapi merujuk dari konten aara hari ini plus kena marah lagi, saya amat sangat menyesali pembatalan kepergian saya ke Solo.
            Dimulai dari tempat showing off bakat yang kurang mendukung, saya sudah sedikit kecewa plus ditambah makian para Tim Evaluasi perihal kegagalan saya menjawab sebuah pertanyaan plus mengintrogasi saya mengapa saya pernah memberikan pernyataan pengunduran diri. Ah sial! Kesekian kalinya meridhokan gak dateng ke event keren untuk acara beginian doang, umpat saya dalam hati. Ditambah segelimet problematika dalam kubu angkatan, makin saja saya kecewa, kecewa luar biasa.


BAGIAN TERLARANG: SEBUAH PENGAKUAN SERTA PERTANYAAN
           
Disini saya akan memeaparkan soal ketidak seriusan saya mengikuti kegiatan kaderisasi. Ya, mungkin memang sudah didasari pemikiran saya yang kurang berkenan ditempat baru ini. Entah mengapa, para Panitia tidak pernah memergoki saya yang sedang merokok dipelataran Masjid Al-Furqon, atau merokok didaerah Parkiran  atau bahkan di kantin dekat Perpustakaan selama berbulan-bulan ini dan sayasampai lupa berapa jenis pelanggaran yang pernah saya buat dan tidak saya akui. Jujur saja, pada awal masuk perkuliahan saya memang sudah merasakan bagaimana hidup di lingkungan baru. Istilah bule nya ngerasain gimana Person United Nothing Kindom, lah. Eh, tapi sayang itu cuman bentar sampe akhirnya MOU disetujui.
Selain itu, saya juga tidak habis pikir, mengapa saya lulus masa adaptasi? Toh buku perkenalan saya tidak sesuai target. Apakah ada kongsi jahat dibalik ini semua? Ya saya tidak faham soal itu. Ditambah saya yang selalu tidak pernah mengikuti MOU yang disetujui. Bener-bener fenomena nyata alam bawah sadar saya. Ada apa ini? Apakah ada segelintir orang yang menginginkan saya bergabung?
Berkaitan dengan prosesi kaderisasi, saya hanya mengkritik persoalan efektifitas waktu. Sebenarnya banyak sekali kegiatan yang seharusnya bisa dilakukan dalam satu hari dan mempercepat proses kaderisasi, namun sayang semua tidak sesuai dasar pemikiran saya. Saya keburu jenuh, setiap sabtu harus ke kampus, sedangkan terkadang band yang saya menejeri manggung plus rekan-rekan juga sama, mereka ingin didatangi shownya.
Ada apa sebenarnya? Saya sebenerny ingin sekali menghentikan prosesi ini, udah aja ah, ngapain gitu. Toh yang capek saya lagi, yang ruginya saya lagi juga. Tapi ya memang, mungkin Tuhan berkehendak lain untuk jalan hidup saya ini. Hanya yang pasti, saya gak gampang buat diatur, dihasut bakan dijerumuskan. Setiap langkah saya perhatiin, gerak-gerik selalu jadi prioritas untuk dijaga. Untuk itu, ijinkanlah saya mundur, bila memang saya hanya akan menjadi bumerang bagi teman-teman. Saya udah ngelakuin kesalahan besar, keterlambatan hingga duabelas jam itu bukan kesalahan ringan, hukuman yang setimpal adalah ketidak lolosan saya sebagai warga.

Bom Waktu, suatu saat akan Meledak.