Rabu, 25 Juni 2014

Misteri Enam Ribu Rupiah


            Suasana sore hari di kampus ku begitu menakjubkan. Dimana burung-burung berterbangan seraya melakukan teknik formasi ala AURI sedang nampang di pagelaran Angkatan Bersenjata. Ditemani angin sepoy-sepoy ala film-film hollywood syuting di Hawaii. Indah banget pokoknya, harus coba rasain serunya!
            Hari ini hari dimana kawan-kawan seperjuanganku di Pendidikan Sejarah UPI sedang melawan rasa malas untuk menuntut ilmu. Mereka sedang mengikuti SP apa sih? Yap, semester pendek. Saking pendeknya cuman dua bulan, mending juga les di G* atau Ne*t**n, hahaha.
Oke, kembali ke suasana sore di kampus ku, UPI di kawasan Jl. Dr. Setiabudhi, lebih beken dipanggil kampus UPI Bumi Siliwangi. Disini aku berusaha sekuat tenaga mengejar gelar S,Pd. Ya, sarjana pendidikan untuk jurusan yang ku pilih Pendidikan Sejarah. Sore yang indah ini kuhabiskan dengan menyedot beberapa game-game playstation satu. Lumayan, ketika para mahasiswa hanya segelintir yang kuliah, maka kesempatan emas untuk memaksimalkan jaringan nir kabel alias wi-fi untuk mengunduh sebanyak-banyaknya apapun yang perlu dan ada pula yang tidak perlu untuk aku unduh.
Sebenarnya hari ini adalah hari yang aku sendiri gatau kenapa, kenapa gimana? Kan udah aku bilang, aku gatau, haha. Oke, sebenarnya hari ini merupakan hari dimana aku bertemu dengan kekasihku, ya seorang gadis mungil yang lucu nan cantik jelita. Namanya Rani Silvia, seorang gadis yang tinggal di bilangan pajajaran, bandung. Hari ini aku ketemu sama dia, juga dapet kesempatan buat mengunduh berbagai macam file-file yang dibutuhkan komputer jinjing ku.
Maklum, aku bukan seorang sosialita yang konsumerisme, jadi aku belum kepikiran buat beli acang yang kawan-kawan sudah miliki. Ya, karena menilik dari nilai guna, itu belum sangat berguna buat aku secara pribadi juga untuk keluargaku secara umum – apa coba?. Nah, berawal dari bertemu dengan kekasihku, aku membeli beberapa bungkus makanan ringan untuk ngemil.
Karena kawanku Tendy dan Aldilla mengajakku untuk lari di sore hari indah ini di Stadion UPI. Aku keluarkan uang sepuluh ribu rpiah dari dompetku untuk membayar cemilan seharga empat ribu rupiah. Secara tidak sadar uang yang akan kembali ke saku ku adalah enam ribu rupiah.
Akhirnya aku dan kawan-kawan juga kekasihku beranjak menuju arah stadion UPI untuk lari sore, oiya aku sebenernya gak akan lari, sekedar melihat dan menilik indahnya sore di kampusku. Mereka pun dengan bergegas menuju tempat tujuan. Setelah mengalami banyak prosesi – seperti pada upacara galungan dan kuningan, haha gak juga sih terlalu lebay. Akhirnya, diputuskanlah untuk renang di gelanggang renang, namun sayang kedatangan kami jam lima sore sama saja dengan menyalib diri, karena gelanggang ditutup jam lima sore. Dan pilihan terakhir adalah lari. Sayang sekali, belum sempat untuk berlari kawanku Rindu dan Acep telah terlebih dahulu memutuskan untuk lari sedangkan Tendy dan Aldilla tidak sempat untuk lari, karena tempat akan segera ditutup juga.
Dengan perasaanku yang semi-semi melow karena cuaca yang cukup aneh ditambah kawanku Syifa yang terlihat kecewa karena gagal berenang. Kami pun terpisah-pisah, dan aku dan kekasihku Rani memutuskan untuk pulang. Sesampai di dekat gedung pasca sarjana kumandang adzan maghrib mulai berkumandang, tanpa banyak berpikir aku dan Rani memutuskan untuk sholat dahulu dilanjutkan pergi menuju toko buku di bilangan supratman.
Sholat baru saja berakhir. Pertanda aku harus bergegas ke bawah untuk bertemu dengan Rani untuk melanjutkan perjalanan kita menuju toko buku. Tiba-tiba sesaat setelah aku keluar pintu masjid Al-Furqon ada bapak-bapak menegurku.
“A, AA kuliah disini?”
“Iya, pak. Saya kuliah disini.”
“Udah berapa tahun kuliah disini?”
“Baru mau satu tahun, sekarang mau semester tiga.”
“Oh, tinggal dimana?”
“Saya tinggal di Cimahi, di baros, pak.”
“Disana ya. Saya banyak sodara disana.”
Bapak-bapak itu menuju ke tempat penitipan sepatu untuk mengambil sepatunya. Dan saya bergegas menuju keluar untuk memakai sepatu. Sebenarnya, cukup mengagetkan juga, tiba-tiba ada orang SKSD (Sok Kenaal Sok Dekat) kayak yang pernah ketemu. Dingin banget si bapak nya, kayak yang gak tahu malu. Sesaat lagi make sepatu, bapak itu dateng lagi.
“Asalnya dari mana? Jakarta ya?”
“Bukan, pak. Saya asli sini.”
“Oh, saya kira dari Jakarta. Jadi gini, A. Saya ini mau ke leuwipanjang, tapi kurang uang Rp 6000, saya boleh minta gak, A?”
“Oh, hehe. Boleh, pak. Emangnya bapak dari mana?”
“Saya dari Jogja, kula saking Jogja (saya dari jogja).”
Sambil mengodok saku belakang, saya beri deh uang enam ribu yang saya punya.
“Ini, pak.”
“Iya, terimakasih banyak ya, A”
“Iya, pak. Sama-sama.”
Bapak-bapak itu berlalu menuju arah SD Isola, dan saya duduk di depan Al-Furqon. Awalnya aku udah semi-takut, ini orang mau ngapain. Tapi pada akhirnya klimaksnya, bapak itu Cuma sekedar minta uang enam ribu rupiah. Nah, aku jadi kepikiran kan, kenapa harus enam ribu rupiah? Kalo emang bapak-bapak itu niat buat minta uang, kenapa gak sepuluh ribu? Atau lima puluh ribu? Atau lima ribu yang bulat gitu kan.
Kenapa enam ribu? Dengan keadaan uang disaku belakangku itu enam ribu rupiah. Dan aneh juga, ketika bapak-bapak itu, kenapa harus meminta uang ke saya? Kan ada banyak orang di amsjid pada saat itu. Ada kemungkinan memberi kan ketika dia minta tolong ke bapak-bapak lagi, atau yang seumuran dengan dia. Bukan anak kuliahan yang uang buat beli rokok aja bingung.
Aku mulai bingung ketika itu, dimana aku semi-semi curiga mau diapain nih sama ini orang. Maklum aku pernah ngalamin yang namanya dijambret baik-baik dan itu sakit banget rasanya, eheheh. Aku juga lupa bukanya liat itu bapak-bapak, siapa tahu aja dia menghilang kan? Kayak di sinema-sinema yang ditayangin di stasiun tv yang sekarang udah ganti nama gegara ribut kepemilikan saham, ehehe.
Begitu Rani keluar dari masjid langsung aku ceritain aja kejadian enam ribu rupiah dan bapak-bapak aneh tadi. Seperti aku, dia juga kebingungan, kenapa harus kayak gitu. Kembalikan aja ke yang Maha Kuasa, supaya tidak membingungkan hidup aku yang udah absurd ini, haha. Masih ingat kan? Uang enam ribu aku dapet dari kembalian beli cemilan sore hari. Dan kenpa harus bapak-bapak itu minta uang enam ribu ke aku? Kenapa gak lebih atau dibulatin mintanya? Fyuuuuh.
Setelah rehat dengan merokok sebatang kretek filter juga cerita dengan Rani. Kita langsung menuju ke toko buku di bilangan supratman untuk membeli buku karya Jostein Gaarder yang terkenal, karena udah sampai dua belas kali di cetak bukunya buat versi gold dan sembilan belas kali cetak untuk edisi lama, ya judulnya Dunia Sophie dan sebuah buku untuk pengetahuan musik. Buku karya Theodore KS seorang jurnalis di Kompas, judul bukunya Rock ‘n Roll Industri Musik Indonesia: dari Analog ke Digital.
By the way, buku-buku itu lagi diskon di toko buku yang aku sambangi, lumayan 25%. Sampai berjumpa lagi di cerita-cerita lain mengenai hidupku yang lucu, aneh dan gak bisa diprediksi kawan. Om swastiastu, mugia gede raharja, astungkara. Tabik

Senin, 16 Juni 2014

ANTI-BORING - from side of Positive Mental Attitude



ANTI-BORING (Angkatan Tigabelas Bersama, Ngobrol, Sharing dan Refreshing)
13-14 Juni 2014

Jumat, 13 Juni 2014
            Tepat pada hari jumat, tgl 13 Juni 2014 para mahasiswa Pendidikan Sejarah angkatan 2013 memobolisasi kemuakan akan kehidupan akademik yang fana ini menuju ke tempat yang dapat dikatakan semi-surga, ya ketika Surga dan Neraka benar adanya, haha. Kami semua melepas kepenatan di kampus menuju sebuah villa yang indah luar biasa di kawasan Cibodas, Lembang. Disayangkan oleh kami, karena beberapa anggota dari Pendidikan Sejarah 2013 tidak dapat hadir mengikuti rangkaian acara pada hari itu. Dengan berat hati kami harus tetaap beranjak menuju lokasi liburan tanpa kawan-kawan yang tidak dapat mengikuti acara.
            Ala-ala mau turun kejalan atau dapat dikatakan persiapan menuju medan laga, kami dengan segala ornamen-ornamen lucu ala nostalgia PERSAMI, semua berkumpul di halaman gedung kebanggaan yang berSejarah ISOLA. Disini kami semua mengecek kesiapan serta kelengkapan dari peserta beserta peserta kegiatan Anti-Boring. Setelah dirasa siap dan tanpa kendala berarti, kami langsung memobilisasi diri menuju lokasi dengan dua cara, berkoloni dengan sepeda motor dan terhimpun menggunakan angkutan kota. Tidak tanggung-tanggung sekitar dua puluh tujuh sepeda motor dan dua angkutan kota digunakan dalam kegiatan ini.
            Sesampainya di lokasi, seperti layaknya film-film drama-komedi dan anime, semua mata tertuju pada keindahan bangunan yang akan kita tempati. Sebuah bangunan besar berbahan baku kayu, dengan segala kemewahan yang ditawarkan, membuat blu kuduk berdiri, air liur mengucur deras, serta perasaan kagum terpancar dari wajah-wajah peserta dan panitia seakan ini dalam mimpi, hahaha. Langsug saja, tanpa berlama-lama, masing-masing dari kami dengan cekatan mengisi rumah keren ini. Pria langsung mengambil posisi untuk berbincang, merokok, dan lebih dari merokok. Wanita, dengan segala keanggunan yang dimiliki langsung mengeroyok kamar-kamar yang tersedia, priceless!.
            Sore hari bila tidak salah, penulis cukup lupa karena memori penulis mulai terganggu dengan ingatan-ingatan kesejarahan, hahaha-sombong. Sekitar sore hari, kami melakukan rapat darurat, membicarakan seubah masalah krusial di dalam angkatan, ya seseorang di angkatan kita yang perlu dikembalikan jiwa kemanusiaannya, jiwa sosialnya, jiwa keberanian menghadapi dunia yang vhana ini. Sebuah masalah cukup kritikal mesti dijalani angkatan 2013 ini, dimana anggota dari kita menghadapi sebuah masalah yang sulit dijelaskan secara langsung melalui perkataan, karena masalah ini cukup absurd dan menyangkut masa depan orang tersebut dan angkatan.
            Tuntas sudah perbincangan intim mengenai salah satu anggota angkatan, kami langsung berpencar mengisi kekosongan di dalam rumah yang sedang diguyur hujan lumayan lebat. Ada yang bermain kartu remi, kartu uno, hingga bermain hati, hahaha. Tanpa disadari oleh kawan-kawan yang sedang asyik sendiri ini, dan asyik berkoloni. Kawan-kawan dari PDD (Publikasi, Dokumentadi dan Dekorasi) sedang mempersiapkan hadiah spesial  bagi anggota angkatan 2013, sebelum sesi sharing dibuka pada malam hari. Sebuah bukti loyalitas dan etos kerja yang tinggi diperlihatkan dari PDD, you rawks, doods!
            Masuklah pada sesi yang membuat para atheis-atheis dan para pencari Tuhan mulai gemetaran dan nyaris berlinang air mata, ketika pengajian dilaksanakan di tempat ini, ditempat yang baru nan mewah ini, tempat berkumpulnya Serigala-serigala angkatan 2013. Oiya, bukan Serigala, tapi Burung Hantu, karena logo angkatan kami Burung Hantu – apasih nih? Gak jelas banget, huffft, hahaha. Ya, yang pasti setelah sholat maghrib berjamaah, kami melaksanakan pengajian dan diskusi dengan tujuan memperera tali silaturahmi serta memantapkan diri terhadap agama. Semoga berkesan, kapan lagi coba kan pengajian, biasa diskusi theology, marxist dan ekonomi syariah, hihihi shuuuut ah.
            Akhirnya, rangkaian acara yang ditunggu-tunggu tiba. Yeaaaah! Akhirnya makan malam, sob. Dengan menu yang mantap, kami langsung santap masakan yang diracik oleh para tim Konsumsi dari angkatan 2013. Kekurangan serta kelebihan biarlah itu menjadi rahasia antara anggota 2013 dengan para juru masak, jangan dibagi-bagi ditulisan ini, karena sesungguhnya makanan yang disajikan itu tidak boleh dikritik, namun harus disyukuri dan semoga bermanfaat bagai kita semua, amin. Alhamdulillah penulis terbawa sholeh setelah mengikuti pengajian di acara Anti-Boring kemarin, trims acara dan pengisi acara pengajian, penulis jadi alim, haha.
            Pukul delapan malam lebih, sesi sharing dimulai, sharing disini mungkin llebih umum dikenal dengan upgrading, sebuah usaha memajukan sebuah keluarga melalui cara musyawarah mufakat. Tapi ingat, musyawarah mufakat menuju kebaikan yah, bukan musyawarah mufakat untuk menipu rakyat seperti para birokrat negeri ini, ehehe. Dimulai dari pemilihan moderator acara ini pun secara otomatis dimulai. Awalnya keadaan masih santai, karena moderator memberikan keleluasaan bagi peserta, ya supaya acara ini dibawa sanatai namun serius, namun lama-kelamaan keadaan mulai out of control. Mulai muncul beberapa diskusi-diskusi yang lebih menarik dari diskusi yang dilakukan di forum besar itu, omaygat, mulai chaos nih, hahaha. Oiya, penulis lupa...sebelum diskusi atau sharing moment aatau upgrading dilaksanakan, pemutaran video kilas balik angaktan 2013 diputar. Video ini berawal dari semua angkata 2013 menjadi Mahasiswa Baru, dibimbing oleh kakak-kakak tingkat di Sejarah. Mengikuti rangkaian pengkaderan warga HIMAS (Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah) hingga terakhir keadaan dan kondisi kawan-kawan yang sudah mengakhiri semester dua perkuliahan, tidak terasa yah, waktu berlalu begitu cepat, hihihi.
            Kembali lagi ke cerita dimana sesi upgrading ini dilaksanakan. Akhirnya moderator mengambil keputusan garang-garang oenjoe, apa sih garang-garang oenjoe, ya mulai tegas memarahi peserta diselingi humor yang menggelitik, ihihi. Waktu berlalu, tak dirasa dinginnya malam di Lembang, semua saling berargumen, saling lontar pertanyaan sana-sini, ada yang serius, semi serius, ada yang menyerah dan gugur di medan argumen alias tidur, ada yang mulai merasakan gejala masuk angin dan diurus oleh tim medis, pokoknya seru....ini momen yang sadar atau tidak sadar dirasa oleh kawan-kawan 2013 merupakan sebuah momen yang memorable, priceless!
Sabtu, 14 Juni 2014  
Pukul dua dini hari, upgrading pun berakhir...wajah-wajah lesu yang haus akan empuknya kasur dan hangatnya selimut mulai berkoloni memobilisasi diri menuju tempat-tempat yang dirasa nyaman oleh mereka semua. Di tempat lain, pria-pria dan beberapa wanita asyik menonton pagelaran sepak bola empat tahunan Piala Dunia, pertandingan klasik antara Spanyol kontra Belanda yang dimenangi Belanda dengan skor telak 5-1, sungguh diluar prediksi. Disinilah sebuah acara yang menurut penulis sangat sulit didapat. Karena memang kita masih baru, belum genap setahun kita saling mengenal. Belum genap dua semester kita menjalani perkuliahan bersama, namun kita sudah mendapatkan sebuah pengalaman bermalam bersama, diisi dengan acara-acara yang tidak akan didapat di dunia luar. Tidak akan dirasa sebuah kehangatan keluarga yang sebenarnya, dimana kawan-kawan dapat bercengkrama selama dua hari semalam, jangan perhatikan acara yang ditawarkan oleh tim acara, tapi resapi acara diluar rundown yang kawan-kawan rasakan. Itulah sebuah pengalaman hidup kawan-kawan, sebuah petualangan yang tiada akhir.
            Setelah semuanya tidur, termasuk penulis yang tertidur da terbangu pukul delapan pagi, haha..cukup buruk untuk ukuran tidur, iya dong cuman tidur berapa jam coba? Ahaha. Pagi hari yang indah ini sedikit yang terekam oleh otak penulis, karena memang penulis hanya mereka sesi makan pagi yang diikuti oleh penulis sendiri, serta penulis bergegas mempersiapkan acara selanjutnya, ya Permainan ala Tujuhbelas Agustusan, yihaaa.
            Akhirnya, tiba saatnya kawan-kawan mengeksplorasi kemampuan bermain, permainan anak-anak yang biasa ditemui pada hari Kemerdekaan Indonesia, permainan 17 Agustus. Sekalian sebuah kilas balik dan nostalgia masa kecil, tim acara memberikan kesempatan bagi teman-teman mengikuti rangkaian acara dengan inti permainan, permainan yang biasa ditemui pada tanggal 17 Agustus. Ada permainan makan kerupuk, balap kelereng, memasukan pensil kedalam gelas dan joget balon, seru pokoknya, mengasyikkan! Sayangnya hanya diikuti segellintir peserta, tidak seluruh peserta mengikuti. Mungkin karena masih lelah karena kurang tidur, mungkin sudah ingin bergegas pulang ke kosan melanjutkan tidur, ehehehe.
            Berlalu dengan sendirinya agenda bermain happy ala games 17 Agustus. Lanjut kita melakukan evaluasi kegiatan. Setelah semua saling buka-bukaan, hal yang tidak diinginkan pun terjadi, salah seorang dari anggota angkatan 2013 mengeluarkan statement yang sangat mengagetkan, sulit diterima dan kita semua sangat terpukul mendengarnya. Lagi-lagi angkatan 2013 harus kehilangan keluarga. Salah satu dari kami memutuskan untuk tidak lanjut kuliah, karena satu dan lain hal. Sudah tiga atau empat mungkin yang meninggalkan keluarga Pendidikan Sejarah 2013. Suasana yang sebelumnya tidak di seting oleh tim acara, tiba-tiba menjadi suasana yang kelabu, sebuah suasana dimana hal-hal yang diluar praduga kawan-kawan semua terjadi disana. Semua dengan tanpa komando, saling mengeluarkan air mata kesedihan, dan disayangkan kenapa penulis tidak bisa mengeluarkan air mata? Apakah pnulis dilahirkan tanpa air mata? Omaygat eike syedih padahal waktu itu, ehehehe. Suasana kelabu itu berlangsung sangat hikmat, dimana akhirnya semua saling menguatkan diri dan pesan-pesan dikeluarkan dari rekan yang harus dengan terpaksa tidka melanjutkan di Sejarah. Pokoknya unpredictable banget, sob.
            Ditutup dengan halal bi halal, semua kawan-kawan angkatan 2013 saling maaf-maafan, aduh daling maaf memaafkan, sori yah tata bahasanya amburadul, ehehe. Semua pada dalam keadaan sedih, ditambah banyak deh pokoknya, alhasil sesi halal bi halal ini jadi makin kena. Sebab kawan kami mengeluarkan statement yang luar biasa diluar apa yang dipikirkan kawan-kawan yang hadir di acara Anti-Boring tersebut. Beres-beres, dan diakhri dengan foto bersama, angkatan 2013 pun akhirnya mengakhiri petualangan seru di sebuah villa keren di kawasan Cibodas Lembang ini. Sebuah petualangan tanpa akhir semoga terus mendampingi keseharian anggota Pendidikan Sejarah angkatan 2013 hingga akhir hayat, semoga ini merupakan awal dari petulangan keren yang nanti akan kita dapat di hari yang akan datang kawan....amin-amin-amin!!!

Kawan tercinta
Dwi Krebo - @dwivetable
Tabik!

Pesan untuk semua.
Kita tidak dapat bersama tanpa adanya tali gaib yang disebut keluarga. Sulit untuk kita dapat bercengkrama, saling tukar ilmu, sharing dan berbagi makanan tanpa adanya tali gaib keluarga tadi. Kita besar dan hidup dikawasan UPI berkat lindungan Tuhan dan Pendidikan Sejarah. Kita bersama merajut sebuah pola kehidupan indah bersama Pendidikan Sejarah. Ingat! Kita gak akan bisa seperti ini, dapat berkeliaran di UPI tanpa Pendidikan Sejarah. Pendidikan Sejarah merupakan pondasi kita dapat berkenalan dengan teman-teman di jurusan lain. Tanpa Pendidikan Sejarah teman-teman bukan siapa-siapa di UPI. Teman-teman bisa saling kenal dan merajut kasih di UPI karena siapa? Karena Pendidikan Sejarah yang abstrak, yang tidak dpat diraba namun nyata untuk kehidupan kita di dunia.
Pesan juga dari saya, jangan jadikan angkatan 2013 ini bagaikan Kisah Kasih Lokalisasi, mengapa demikian? Ya, di lokalisasi, orang-orang akan mudah merasa puas, berbicara kini dan memunculkan imajiner-imajiner baru. Semua kawan-kawan diharapkan tidak hanya berbicara kini, semoga kawan-kawan tidak mudah puas dengan angkatan 2013 ini, dan dimohon jangan memunculkan imajiner-imajiner baru yang akhirnya dapat menghancurkan keluarga besar Pendidikan Sejarah 2013. UNITE, Doods!
Untuk itu jadikanlah kehidupan kawan-kawan semua sebagai sebuah Petualangan. Jangan jadikan Ujian, karena bila hanya dijdikan Ujian, setelah kawan-kawan berhasil melewati nya, tidak akan ada evaluasi dari kawan-kawan. Layaknya UN, setelah lulus kawan-kawan akan lupa, maka jadikanlah sebuah Petualangan, dimana kawan-kawan gagal, kawan-kawan akan mencoba untuk melakukannya lagi, lagi dan lagi. Semangat kawan!
“Kalau hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekedar bekerja, Kera juga bekerja.” – Buya Hamka

Jumat, 18 April 2014

Apa? NKRI katanya, ogituh? Ya!



Berbicara soal Kesatuan di negeri saya hidup itu sama aja sebuah mimpi yang sulit terwujud. Kenapa? Masyarakat yang belum bisa mengamalkan Pancasila seutuhnya.

  1. Katanya Ketuhanan Yang Maha Esa, tapi masih banyak manusia-manusia yang lebih primitive dari manusia pra-sejarah yang telah mengenal Animisme, Dinamisme dan Totemisme.
  2. Katanya Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, tapi manusia nya masih belum bisa memperlakukan saudara se-bangsa nya dengan sikap layaknya memperlakukan manusia. Adil? Hukum disini seakan timpang. Edukasi belum merata untuk semua. Kelayakan hunian hanya untuk kaum Borjuis dan sederhana (kelas menengah) sedangkan yang miskin?. Beradab? Hello, bangsa ini telah kehilangan jatidiri sebagai bangsa dari timur, budaya barat diagungkan, kekuasaan para tirani di ikuti dengan menelan mentah. Masih ada yang kurang? Sebutkan!
  3. Katanya Persatuan Indonesia, tapi nyatanya bangsa kita masih belum bisa menerima ke-khasan daerah orang lain. Belum bisa menempatkan diri pada sisi diantara, masih suka rasis, senang mem-bully dengan kata-kata santai tapi sebenarnya membuat persatuan bangsa ini semakin jauh dari seharusnya. Oh, Tuhan…negeri ini dikaruniai banyak etnis, ras dan golongan, namun rasa untuk saling menghormati dan menghargai belum bisa tercapai, mengapa? Anda bisa menjawabnya dengan fenomena-enomena dalam keseharian anda.
  4. Katanya Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan, nyatanya? Kebijaksanaan sang pemimpin juga diri masing-masing masyarakat belum terbentuk dan terlihat secara real. Perwakilan? Perwakilan Rakyat? Apakah mereka sudah melakukan sikap yang pro rakyat? Atau haus akan kekuasaan karena tahta sebab manusia pada dasarnya homo homini lupus? Itu semua anda dapat tafsirkan sesuai sudut pandang pemikiran anda semua.
  5. Katanya Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia? Apakah status sosial selalu jadi permasalahan disini? Ya..karena tidak adanya kesadaran diri bahwa Takdir harus kita terima, namun berusahalah untuk merubah Nasib. Jangan berdiam diri tanpa berusaha. Jadi inget “Jangan lihat buku dari cover nya, tapi lihat dulu isinya.” Nah harusnya kayak gitu, jangan minder duuan liat s A kaya kita gak atau apalah itu. Semoga masyarakat kita lebih open minded dan tidak berfikir kerdil dan bodoh.

Dari tulisan saya diatas, dapat saya simpulkan bahwa masyarakat negeri ini terlalu baik namun bertampang galak. Terlalu pendiam ternyata pendendam. Terlalu pemalu, namun sombong. Terlalu berani, namun bodoh. Terlalu lucu namun mematikan. Terlalu gemar membeli tanpa pernah berpikir untuk mencipta. Terlalu hebat namun lemah syahwat. Terlalu melankolis dan mudah ditindas, dan masih banyak algi, silahkan sebutkan!
Untuk itu selayaknya kita dapat bersikap lebih objektif. Coba reka semua pendapat melalui berbagai sudut pandang. Salah bila kita menyalahkan Tuhan, kalau kita dilahirkan dari keluarga kecil yang miskin. Karena sesungguhnya semua orang sama-sama bekerja keras untuk hidup. Tentu, yang membedakan adalah strata sosial, namun Tukang Becak bekerja keras demi mendapat uang, begitu juga Prajurit TNI yang rela mati untuk di gaji. Sama juga dengan para birokrat diatas sana, mereka berusaha. Semuanya akan terlihat saling tikam ketika tidak berusaha. Seperti yang saya katakan bahwa sesungguhnya terimalah takdir, namun berusahalan untuk merubah nasib.
      Mungkin sekian yang dapat saya tuliskan mengenai masalah yang ingin saya tuangkan lewat tulian ini. Kurang lebihnya saya mohon maaf, karena kesempurnaan hanya milik Tuhan, dan kekurangan milik Bunda Dorce, ups milik Manusia. Terimakasih, tabik!

Jumat, 11 April 2014

Almaira: Gelap Terang, ini Hidupku (Kisah seorang anak yang Dimanja)



Gelap dan Terang…Ini Hidupku (Kisah Anak Perempuan yang dimanja Ayah)

            Setelah sekian lama, akhirnya saya kembali untuk menyuguhkan sebuah cerita santay yang akan menceritakan sebuah keluarga kecil yang bermukim di perkotaan yang sumpek dengan aktivitas perkantoran yang tak ada hentinya . Kali ini saya akan mengisahkan seorang anak perempuan bernama Almaira. Seorang anak yang selalu dimanja oleh Ayahnya, hingga suatu ketka ia mendapat sebuah masalah yang cukup rumit dalam hidupnya. Cerita ini akan digambarkan lewat penuturan adiknya, Toby yang dengan tidak sengaja selalu mengetahui duduk permaalahan Almaira. Dan cerita pun dimulai….

Gelap dan Terang…Ini Hidupku (Cerita tentang Almaira)
Halo, namaku Toby. Aku akan menceritakan kisah kakak ku yang aku rasa cukup baik untuk dijadikan pelajaran bagi diriku pribadi, dan juga orang lain. Maka, aku mencoba menuliskan cerita ini disini, ya di akun pribadiku…sebuah perangkat lunak produksi Microsoft. Kutulis disini apa yang aku tahu, lihat dan dengar, semata-mata untuk menjadi pacuan serta arahan untuk hidupku yang lebih baik.
Aku memang tidak ingat disaat kecil bagaimana perlakuan Ayah kepada Kakak (Almaira), karena aku lahir ketika kakak berusia 7 tahun. Namun dari apa yang aku alami, semenjak aku dapat mengerti permasalahan, ya kira-kira umur 13 tahun, aku bisa mendapatkan gambaran perilaku Ayah, terhadap kakak.
Mungin aku mulai mengisahkan kakak dimana ia sangat dimanja oleh Ayah. Diawali disaat ia mulai masuk SMA, aku merasakan ada perbandingan antara aku dan kakak. Dimana Ayah selalu terkesan berpihak kepada kakak. Apapun yang diinginkan kakak, susah payah Ayah berusaha untuk mewujudkannya. Ya, berbeda dengan aku, apa yang aku minta selalu disangkal oleh Ayah, dengan dalih aku belum memerlukan barang yang aku inginkan.
Sejauh itu aku belum merasakan apa yang akan berdampak pada psikologis kakak, karena aku masih nerima aja. Lama-kelamaan Ayah makin kurang terkontrol dalam memenuhi semua permintaan kakak. Apapun yang kakak inginkan, selalu diusahakan oleh Ayah, mulai dari istilahnya hutang hingga bekerja keras tak kenal lelah demi memenuhi kebutuhan dan keinginan Almaira seorang, dan aku? Tak dianggap.
Berawal dari sikap Ayah yang manut dan jor joran kepada kakak mengakibatkan sikap kakak sangat manja dan hedonis. Oiya gak kerasa kakak udah beres SMA, lanjut kuliah, walau di Univ Swasta dia terlihat tidak berat hati meski awalnya sulit menerima. Akhirnya dia melewati fase menjadi seorang yang intelek, dan bekerja di sebuah bank BUMN. Lagi-lagi, bukannya mandiri, kakak malah makin menjadi-jadi.
Ayah dengan kondisi sudah mulai menua ditambah ambisi nya untuk membangun rumah kami yang awalnya tidak terlalu layak dihuni terus diganggu oleh sikap akak yang kekanak-kanakkan. Akhirnya, Ayah selalu membagi kepentingan pribadi nya hanya untuk sekedar membahagiakan kakak, ya anak emasnya. Namun, akibat dari sifat itu kakak yang seorang kaum intelek malah terlihat bagai anak kecil yang masih mencari jatidiri.
Dengan posisi kakak di kantor yang masih rentan dengan segelimet kekisruhan seorang teller membuat Ayah kerap kali nombok kesalahan kakak, dan Ayah dengan sifat baik nya membiarkan kakak untuk tidak mengganti kerugian akibat ulah Almaira yang kurang teliti. Selan itu, kakak sering dimarahi, namun membandel dengan melawan perkataan Ayah. Ujung dari semua kekesalan meledak disaat kakak memutuskan untuk menikah.
Aku lupa, saat itu aku kelas berapa yang pasti masih duduk dibangku SMA, dengan sikap legowo nerima perlakuan Ayah yang kurang adil menempatkan prbadi ku pada posisi yang in between, berusaha diantara, dan itu memulai awal dari sikap ku untuk belajar kehidupan dari alam dan kitab-kitab kuno dirumah.
Semua orang bingung mengurusi pesta pernikahan kakak. Karena kakak memilih calon suami nya yang seorang anak purnawirawan TNI yang berpangkat besar, namun telah ditinggal meninggal kedua orang tuanya. Dan sialnya, calon suami kakak ini sifat nya sama dengan kakak….ya dimanja daengan dicekoki semua keinginan mereka yang pasti cepat atau lambat terpenuhi.
Entah cobaan hidup bagi Ayah, entah sebuah anugerah bagi mereka berdua yang menjalin kasih hanya karena dasar suka sama suka. Saya sebagai anak kecil pada waktu itu hanya bisa mengamati dan tidak dapat mengomentari sepatah katapun, karena takut kena omelan Ayah yang durasinya bisa 9sks perkuliahan bahkan lebih, hahaha. Dari situlah kejengkelan mulai aku tuangkan lewat tulisan.
Ayah, mengapa engkau terlalu mengagungkan kakak? Itu selalu terpikir olehku disaat aku meminta suatu hal yang mungkin dianggap sepele, namun tidak dipenuhi. Namun, berkat didikan Ayah yang seperti itu membuat aku terpacu untuk mencari alternatif lain untuk mendapat uang, dan memenuhi kebutuhan tanpa meminta kepada orang tua. Sejak itu aku menjadi lebih prihatin, bersika antisipasi, simpati dan mengerti keadaan yang sedang menimpa orang tua, ya walalu tetap jengkel, ehehe.
Kembali ke perkawinan. Akhirnya Ayah juga keluarga mempelai pria telah menyetujui tanggal pernikahan, dan segala sesuatu akhirnya dihandle oleh Ayah,dengan bantuan uang dari mempelai pria kurang lebih tiga juta rupiah dari total keseluruhan biaya pernikahan yang mencapai angka ratusan juta, sangat tidak manusiawi bukan?
Hari demi hari telah dilalui oleh mereka (kakak dan suami) dalam  menjalankan kehidupan berumahtangga. Cukup menjadi pertanyaan bagi saya, mengapa suami kakak belum bekerja tetap, sedangkan mereka telah menikah? Itu selalu terpikir oleh saya, namun apa daya, aku hanya bisa memikirkannya sendirian dan kucurahkan lewat tulisan-tulisan kecil, dan akhirnya ini kesempatanku untuk menceritakannya di ms word ini.
Puncak dari kekesalan Ayah kepada kakak adalah, ketika kakak datang kerumah, di usia perkawinannya yang kedua tahun, hampir masuk tiga tahun. Aku yang maih gak ngeh ada apa ini. Hingga setelah seminggu dirumah aku baru sadar kalo kakak sedang in trouble dengan suaminya. Lama kelamaan, suasana makin absurd dan aneh, dan akhirnya aku mendengar bahwa kakak ingin bercerai dari suami nya karena permasalahan yang sulit diurai.
Dari apa yang aku dengar dari Ayah juga Kakak, dapat aku simpulkan bahwa:
1.      Kakak belum siap menikah dengan orang yang hanya dia cintai, tanpa modal pekerjaan untuk menafkahi perkawinan mereka.
2.   Ayah, sebagai penentu pernikahan, terlihat manut (nurut) dengan apa yang kakak katakan, tanpa berpikir panjang kedepan.
3.   Ayah, terlalu memanjakan kakak, yang menyebabkan kakak bersikap layaknya anak kecil yang terus menerus harus disuapi
4.      Tidak adanya kesadaran moral serta materil dari suami kakak
5.      Aku? Terlalu tolol untuk selalu diam. Karena menggambil prinsip Diam itu Emas

Semua poin diatas mungkin hanya sedikit yang aku tulis, karena sisanya mungkin sebuah aib. Tidak seharusnya aku beritahu kepada orang lain diluar keluarga. Namun yang saya sayangkan adalah, sikap kakak yang terkesan tida dewasa, dan tidak pernah belajar dari kisah masa lalu sang suami, atau apa yang terjadi di saat mereka berpacaran selama dua tahun. Are she stupid? Or megastupi? I don’t know, only her and God can explain it
Selain itu hal yang dapat diambil nilai dari kisah yang aku ceritakan ini adalah, jangan sesekali memanjakan diri, dikala orang tua kita masih mampu untuk menyokong hidup kita. Jangan juga kita terlalu bergantung pada nasib tanpa adanya usaha. Hidup di dunia ini perlu usaha serta pembelajaran dari kisah-kisah hidup baik pribadi atau orang lain.
Janganlah kita memaksakan kehendak. Jangan pula memaksakan keinginan yang awalnya terbendung restu dengan sekedar predikat cinta dan apalah itu. Berpikirlah realistis, jangan terlalu utopis. Namun berimajinasi lah dalam berkreasi, untuk memunculkan kepribadian yang baik bagi kehidupan kita di dunia.
Faktor yang mendindikasi kakak orang yang belum bertanggung jawab itu banyak. Almaira terlalu senang dengan ego, tak mau kalah. Merasa dirinya adalah benar, fasis dan gengsi untuk mengakui kesalahan dimasa lalu.
Semoga dengan coretan di ms word ini, dapat menjadikan aku Toby secara pribadi menjadi manusia yang lebih berhati-ahti. Juga teman-teman yang kebetulan membaca tulisanku ini. Bukan menjelekkan, tapi ini bentuk kekesalanku terhadap kakak. Dan semoga dpat diambil sisi positif dari cerita saya ini. Terimakasih, toby.
Selesai

Oke…itu tadi cerita seorang Almaira yang amat sangat manja. Dan ditambah Ayah nya yang selalu memenuhi permintaan Almaira. Toby sang adik, dengan segala kemampuannya dalam belajar dan berpikir, berusaha menempatkan dirinya supaya tidak ikut-ikutan terperosok kedalam kemanjaan sang kakak. Mungkin ini cerita yang bisa saya sampaikan kepada teman-teman. Tulisan ini hanya sekedar gambaran, bahwa manja dan tidak bertanggungjawab serta peran orang tua yang jor-jor an, adalah awal dari kepribadian anak yang kurang disiplin, dan tidak dapat memecahkan problematika kehidupannya. Terimakasih, tabik!

Jumat, 14 Maret 2014

UNTUK RANI




        Halo, sahabat. Udah lama banget nih, saya gak muncul untuk menceritakan sebuah fenomena kehidupan seorang Jimi Mubarak dalam serial AsapBusurHujan. Yap, seperti yang akan saya tuliskan pada kesempatan kali ini. Jadi, sebenarnya cerita AsapBusurHujan telah selesai, dengan klimaks yang unpredictable sama Jimi. Yap, dimana seorang yang ia cintai, Rain Selfieani akhirnya dapat membuka hati nya untuk seorang Jimi. That’s da’ point, and da’ story about ‘em are end. *clap* hahaha
Walaupun demikian, cerita Jimi dan Rain akan saya lanjutkan dengan cerita mengenai saya (Mohammed D.N. Akbar W) dan kekasih saya, namanya Rani Silviani. Untuk hal tersebutlah, saya disini curhat kepada temen-temen yang mungkin tidak sengaja masuk dan mengklik tetikusnya pada laman ini, hahaha.
Mengapa judul tulisan saya kali ini “UNTUK RANI” ? Yap, karena memang lewat tulisan ini saya akan mendeskripsikan bagaimana rasa kasih saya terhadap Rani. Dan, mengapa Rani dapat mengalihkan dunia saya, hahaha. Terlalu konyol mungkin bila saya banyak cuap-cuap tanpa langsung ke intinya. Ya, ini sebuah tulisan spesial untuk kekasih tercinta, Rani Silviani.


          Untuk Kekasih tercinta, Rani.
          Hai, sayang. Akhirnya aku ada waktu untuk mengucapkan rasa syukur yang luar biasa melalui tulisan. Ya, setelah penantian panjang yang kulakukan untuk menunggu, menanti, untuk sekedar dapat bersanding dengan dirimu, sayang.
          Jujur saja, awalnya terlalu utopis bagi aku buat bisa dapat menjalin kasih bersama kamu. Ya, diawali dari sikap antipati dari kamu ke aku, ya disitu sudah menimbulkan sedikit luka, namun aku tetap berusaha untuk bisa menerima, ya meski sulit, hahaha.
          Tanggal 4 Maret 2014, tepatnya hari Selasa. Aku dengan segala kesederhanaan dan kekurangan, dengan percaya diri memberanikan diri untuk mendeklarasikan rasa cinta kepadamu. Ya, seperti biasa, aku seting dahulu sebuah cerita yang lucu, terkesan lugu dan hiperbola. Namun, substansi dari permainan teka-teki itu yang sebenarnya ingin aku sampaikan kepada kamu, sayang.
          Dimulai dari komunikasi kita yang merenggang, diawali dengan balasan ketus, dsb. Disitu adalah awal dimana kita pada awalnya tidak saling berinteraksi, kita dua individu yang tak mengenal, hingga akhirnya momen memperkenalkan kita berdua. Setelahnya, kumulai dengan menyiapkan hadiah sederhana yang harus kamu pilih, yaitu sebuah permen loli, dan sebungkus oreo. Apa arti dua makanan tersebut? Ya, permen loli adalah makanan kesukaan kamu, untuk itu bilamana kamu memilih itu, clue yang akan kamu dapatkan hanyalah, “tempat pertama kali aku melihat atau berinteraksi dengan kamu.” Dan bila kamu memilih oreo maka clue nya adalah, “tempat dimana kita mengisi buku perkenalan semasa ospek” dan ternyata kamu memilih kedua nya, yang berarti memang benar-benar kamu kesulitan dalam memilih atau memutuskan sebuah pilihan.
          Mungkin agak terkesan sok tahu, tetapi lewat permainan teka-teki tersebutlah, setidaknya aku dapat mengenal pribadi kamu. Akhirnya, kamu dapat menemukan aku di sebuah tempat dimana pertama kali interaksi antara kamu dan aku terjadi, tempat itu aku beri nama Jembatan Tulip. Mengapa namanya itu? Jembatan adalah sebuah usaha manusia, untuk dapat melintasi suatu jalan yang terhalang oleh lubang besar, atau celah. Yang bilamana kita dapat membuat jembatan maka, ketidakmungkinan untuk menyebrangi celah tersebut menjadi mungkin. Nah, lewat analogi itulah kenapa nama tempat itu Jembatan. Dan, Tulip diambil dari bunga Tulip yang indah, dengan berbagai warna bila bermekaran. Tulip disini aku umpamakan sebuah Penerang, ya karena Tulip seperti Pelangi disaat bermekaran, warna-warni. Seperti perbedaan latar belakang kita, yang bila mana dapat dipertemukan melalui Jembatan akan Harmoni, bagaikan Pelangi, berjalan bersama walau dalam perbedaan.
          Hahaha, mungkin sejauh ini, terlalu egois bila aku hanya dengan seenaknya mengatur sebuah alur cerita dalam kisah Asap Busur Hujan, dan menjadikan kamu sebagai pencitraan dari sosok Rain Selfieani. Maaf, mungkin aku terlalu lancang mendeskripsikan kamu dimasa lalu, dengan memanifestasikannya kedalam sosok Rain, maaf ya sayang. Namun, kini dengan sebuah kejelasan yang amat sangat membuat aku tidak percaya, menjadikan sebuah kekuatan maha dahsyat untuk dapat dan terus bersama kamu, dalam keadaan apapun. Baik suka, maupun duka. Semoga dengan sebuah ikatan diantara kita, akan semakin memperkuat kita berdua. Komitmen telah kita pegang, aku dan kamu menyetujuinya, dan oleh karena hal tersebut. Mari kita isi petualangan cinta kita berdua ini dengan penuh keyakinan, kepercayaan, ketulusan yang hakiki dan kerjasama yang apik untuk masa depan yang kita songsong.

  Kekasihmu











              
Mohammed Dwi Nur Akbar W

Sabtu, 25 Januari 2014

PENGALAMAN AWAL MAHASISWA: CERITAKU, SEMANGKUK BAKSO, KECERIAAN DAN INDAHNYA KAMPUNG CITAWA




Jumat,  17 Januari 2014
Hari ini semangat membara didalam dada, tiba-tiba melesat tajam kepermukaan. Dimana rencananya saya akan mengikuti kegiatan P2, (Pengabdian Pada Masyarakat) yang diusung oleh HIMAS (Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah) Universitas Pendidikan Indonesia. Belum genap satu tahun saya tergabung dalam himpunan keren ini, saya sudah mendapat kesempatan untuk mengamalkan syarat humanisme dan sosialisme, yakni terjun langsung ke masyarakat untuk ambil andil dalam mencerdaskan bangsa, dan memberikan energi positif kepada masyarakat.

Sebelumnya, saya tidak terbesit sedikitpun untuk mengikuti kegiatan ini, ya mungkin memang karena saya yang terkadang anti-sosial, namun sesungguhnya dan sejujurnya, saya ini anti-fasis, lho apa coba? Hahaha. Bertempat di Gd PKM lt 1, saya dan teman-teman HIMAS mulai dari kakak angkatan taun 2011 hingga angaktan kami 2013 berkumpul untuk melaksanakan upacara pemberangkatan, cieee berangkat, semoga lain waktu kita berangkat Haji atau Umroh bareng-bareng, amiiin ya rabbal alamiiin.

            Dibuka oleh sambutan dari dosen kebanggan, Bapak Ayi kamipun dibelaki sedikit ilmu, bahwasanya kegiatan ini murni untuk pengabdian mahasiswa terhadap masyarakat, bukan masyarakat yang mengabdi untuk mahasiswa, haha. Oke, setelah sistematika pelepasan selesai, kami langsung meluncur menuju tempat dimana kami akan mengabdi, ya Kampung Citawa, Desa Tarumajaya, Kec. Kertasari, Kab Bandung. Kami melaksanakan agenda pencerdasan dan pengabdian ini selama tiga hari, terhitung sejak tanggal 17 januari hingga 19 januari 2014.

            Berangkat dari Kampus Bumi Siliwangi, UPI, Bandung. Kami menerjang ramainya jalanan ibukota Jawa Barat, ya Bandung kota kembang, sekarang mungkin jadi Bandung kota Taman, tetoooot, hahaha. Kami beramai-ramai menaiki Truk dari Kesatuan Bekang, serasa tentara kami, hohoho.

            Setibanya kami di desa Citawa, adzan maghrib seraya menyambut kami yang kelelahan karena perjalan sekitar tiga jam. Bayangin, tiga jam, berdempetan didalam truk dan itu sesuatu banget, haha. Langsung saja tanpa banyak menunggu, kami langsung menyiapkan segala sesuatunya untuk pengabdian kai di desa kelahiran pemandu saya semasa OSPEK dulu, sebut saja ia Mas Rifky atau Kang Rifky atau Abang Rifky, eh A Rifky juga boleh, kan orang sunda, huehehe.

Kami pun berberes ria. Seberesnya kami langsung diterjunkan ke masyarakat desa Citawa. Dimana kami semua diberikan perjamuan atau ucapan selamat datang dari Tokoh Masyarakat Desa Citawa, sayang penulis gak punya file-file foto selama disana, jadi pembaca silahkan terawang saja bagaimana keseruan kami disana, hahaha *ketawa rahwana*.

Seberes perjamuan alias penerimaan, kami melaksanakan ibadah solat isya berjamaan dan diakhiri dengan briefng untuk kegiatan esok di SDN Citawa 01. Masuklah kita disaat akan menutup mata dan merileksasikan otot-otot yang muringkel (pagujut) ketika.di truk, namun sayang kendala memang selalu ada. Apa kendalanya? Ada segelintir oknum yang ganggu-ganggu waktu istirahat unyu kami, alhasil susah deh buat bobo, hahaha.


Sabtu, 18 Januari 2014
Alhamdulillah, saya masih diberi kesempatan tidur oleh Gusti Alloh. Karena hari ini, saya musti mengajar Sejarah siswa-siswi kelas enam SDN Citawa 01. Ini pengalaman pertama saya untuk mengajar, bro. Senga bener ya, laga-laganya anak kemaren sore berani-beraninya ngajar, huehehehe.

Diawali dengan teh manis yang kubeli di warung,  pengharapan hari ini adalah semangat, karena cuaca di desa ini sama kayak suasana waktu lagi di ranu kumbolo, Semeru. Dinginnya, wuidiiiih gausah ditanya, kayaknya 10derajat dimari, ehehe. Oke, kebiasaan saya yang orang Jawa adalah, menikmati hari-hari dengan merokok, ups untuk adik-adik yang gak sengaja buka tulisan ini, jangan ditiru ya perbuatan penulis, karena merokok adalah budaya orang Jawa, dan lewat rokok, rokok ini telah menyumbang sekurang-kurangnya 70 triliun untuk APBN, wuidih seger tuh uang, kalau itu duit saya, saya belanjain buat beli mall yang entarnya saya jadiin Ruang Terbuka Hijau, cieee sok asik nih penulis, hehehe.

Oke back to the track, akhirnya saya pun mengajar nih ceritanya. Mengajar anak-anak SDN Citawa 01 kelas VI. Ditemani oleh partner saya yang kece badai, Mas Ferdy angkatan 2012. Kami diberi kesempatan untuk mengajarkan sosok Pak Karno, Peristiwa Seputar [Proklamasi dan Makna warna bendera Merah Putih. Awalnya anak-anak ini tegang, kenapa coba? Bukan karena melihat wjah saya dan Mas Ferdy yang sangar bin lucu tapi mereka dicek golongan darah. Ya, diambil setetes darahnya buat dicari identitas golongan darah mereka, hahaha.  Mulia bukan kegiatan kami? Hehe udah ah jangan gitu, entar disangka riya kan berabe.
           
Berhubung saya yang notabene seorang anak yang hidup urakan alias rokenrol, ya gaya ngajar saya juga rokenrol dan kurang terarah. Yang penting mah siswa/I hepi dan gak boring sama Kehadiran kaim berdua, hahaha. Pengalaman menarik adalah, disaat saya melontarkan sesi tanya jawab, eh seorang siswi SD ini ada yang nanya begini coba “Kak, umur kakak berapa?” duarrrrr, seketika langit cerah berubah mendung dan guntur pu datang menyambar, heloooow kamu masih kecil adik, kok nanya umur dan saya bukan pedopil yah, hahaha.

Mengajar pun berakhir, suatu pengalaman berharga bagi diri saya pribadi dan kami semua. Seberesnya saya santai-santai sembari merokok di warung sekedar untuk minum the dan makan bakso, tsaaaah sueger dah enak, beneran sumvah, gapercaya? Cobain deh, huehehe.

Tiba saatnya kami untuk mengadakan pertandingan sepakbola melawan warga kampung citawa. Atmosfer tiba-tiba berubah menjadi layaknya di Anfield Stadium disaat Liverpool menang melawan Manchester United 1 – 0 pada tgl 1 September 2013 lalu lewat gol semata wayang dari Daniel Sturridge, hehehe Maaf ya penulis sedikit rasis, hehe. Pertandingan berlangsung menarik dan atraktif, walau harus dimenangkan oleh masyarakat desa citawa dengan skor entah berapa. Dan pemenang berhak mendapat seekor ayam, karena pertandingan ini diberi tajuk Hayam Cup alias Pertandingan Piala Ayam, haha.

Pengalaman hari ini sangatlah tak terbayar oleh saya pribadi. Pada malam harinya kami bersama masyarakat kampung citawa, mengadakan nonton bareng film Merah Putih di pelataran Masjid Kp Citawa. Antusiasme warga sangatlah mencengangkan dimana barisan penonton tidak hanya diisi oleh anak-anak saja, namun ada remaja, dewasa hingga lansia, priceless!

Kegiatan hari kedua kami di desa citawa pun berkahir. Akhirnya tidur john, tidur, hahaha. Namun seperti biasa, kebiasaan saya di sini, ya ngeteh sambil merokok, ditutup dengan makan bakso. Karena pesan ayah saya sebelum saya pergi adalah “Wi, ini Bapak kasih uang, siapa tau kamu disana ingin makan bakso.” Dan ternyata firasat Bapak saya itu tidak meleset sedikitpun, kereeen.


Minggu, 19 Januari 2013
Tibalah kami pada hari terkahir kegiatan P2M di desa citawa ini. Sedih juga sih awalnya, dimana saya sudah merasakan kebersamaan dan kehangatan bakso diwarung, eh maksudnya masyarakat desa citawa, ehehe. Kegiatan hari ini adalah perlombaan bagi anak-anak, yaitu : Lomba mewarnai, permainan tradisional dan banyak deh sedikit lupa saya, ehehe.

Diawali dengan senam pagi, ya walaupun senamnya lebih kearah modern dance, tapi antusias warga lagi-lagi unpredictable, men. Super kereeen warga akan kehadiran kami semua, Semua Jempol saya angkat, ahahaha. Beres senam, langsung disambung permainan buat warga, dimulai dari Balap Bakiak hingga Makan Kerupuk. Ditempat lain lomba menggambar dan mewarnai pun dilaksanakan. Gak cuman itu, kita juga mengadakan bakti sosial  berupa bagi-bagi pakaian layak pakai untuk warga, wow kereeen bukaaaan?

Akhirnya tibalah kami diujung kebersamaan bersama mastarakat desa citawa. Sedih juga nih, berasa kayak Drama Queen, man. Haha.. tapi ini memang sudah kodrat kita untuk gak lama-lama disini. Udaranya dingin banget, saya aja tiga hari disana gak mandi seharipun, ehehehe.

Sehabis sholat Dhzuhur, kamipun bergegas makan siang dilanjut foto bersama, sebelum akhirnya kembali pulang ke Bandung menaiki Truk. Oh, maaan sakit-sakit lagi nih badan, hahaha. Tapi itu semua terbayar dengan pengalaman yang gak akan bisa didapetin seumur hidup saya dan temen-temen nih pasti.

Kayaknya segitu deh, pengalaman dan cerita aneh yang bisa saya suguhin ke temen-temen, semoga lain waktu kita bisa melakukan hal serupa lagi yah. Tanpa mengurangi rasa hormat dan melupakan kelezatan bakso juga teh dan rokok di kampung Citawa, saya Dwi mohon pamit undur diri. Sampai berjumpa di tulisan saya berikutnya. J

Jumat, 10 Januari 2014

ASAP BUSUR HUJAN Edisi serial: vol.3 - Final Episode: Topeng Sang Petopeng



ASAP BUSUR HUJAN
Edisi serial: vol.3
 The Final Episode
Topeng Sang Petopeng



            Panggil saja aku Jimz, nama lengkapku Jimi Mubarak. Nama ini berarti Pengganti, seperti pengharapanku untuk dapat menggantikan sosok orang yang telah mengabaikan ketulusan Cinta seseorang. Masih di tahun yang baru, kesialan nampaknya selalu meneamni hari-hariku di bulan Januari di tahun yang baru ini. Sedih mungkin satu kata yang terlukis dari kejadian yang kurasa dari tanggal 1 Januari hingga pada saat kuputuskan membuka Topeng kesabran dalam diriku.
            Pada saat itu entah mengapa perasaan nyaman bila chat dengan Rain terasa hilang. Dimana otakku memaksaku untuk tidak menggangu hidup Rain lagi. Sebenarnya, aku sudah mencoba melupakan Rain sejak aku mengetahui bahwa ia sudah berpacaran, ditambah kabar bahwa Rain sudah memiliki pilihan bila suatu saat hubungannya kandas, sebut saja ia Slamii.
            Slamii ini seorang yang pintar, baik, ramah, taat agama pokoknya idaman wanita banget, terkhusus wanita seperti Rain. Disitu rasa minder juga keberanianku seakan-akan menghilang ditelan kekuatan Slamii yang lebih dari diriku yang bagai seonggok daging diujung pisau. Lemaaah terkapar perasaanku, tak kusangka aku harus kembali menjadi seorang pengganti, cocok memang dengan namaku. Sejak hari itu kuputuskan untuk terus berusaha mengejar cinta Rain, walaupun aku sudah memprediksi akhir dari pengejaranku itu, kemungkinannya manis dan tragis, dan tragisnya adalah ditolak atau mungkin tidak ada kepastian.
            Semenjak dahulu memang rasa bosan selalu menghantui, namun berkat Ave, teman Rain yang terkadang memberikanku motivasi untuk tetap mengejar cinta Rain, karena ia merasa, aku dapat membahagiakan Rain. Namun, siapa yang dapat menyangka, setiap kali Rain dikaitkan dengan Slamii dan aku mendengar, sejujurnya itu sebuah pukulan telak. Hook awal disaat Slamii dan Rain jelas saling Cinta, ditambah jap mengenai Rain yang tidak suka aku, karena aku yang perokok juga tidak taat agama ditambah upper cut keras mendengar Rain yang moody, dimana seenaknya dia menempatkan diri untuk bahagia bersama pilihannya.
            Mungkin, cerita ku ini tidaklah Sehebat Pelangi, dimana perbedaan dapat dipersatukan. Cintaku ini tidak sekeren Asap yang menggumpal dan menurunkan butir keberkahan yang dinamakan Hujan. Petualangan mengejar cinta Rain ini layaknya sebuah permainan sepakbola, dimana prediksi selalu ada, dan kemungkinannya dua menang atau kalah. Mendengar Rain yang jauh memilih Slamii ketimbang diriku, jelas harapan yang kugantungkan pada dirinya harus terpaksa kuputuskan. Harapanku bersanding dengan Rain itu untuk membuat diriku jauh lebih baik dari aku yang dulu, aku bosan menjadi pecundang.
            Apakah benar cinta tidak mau mengenal diriku? Apakah benar cinta itu hanya untuk orang-orang yang baik? Rain yang kucinta, ku harap engkau bahagia bersama pria yang kau pilih. Aku selama ini berperan untuk kuat menunggu dirimu, dan berpura-pura menerima semua rasa sakit yang kuterima, semata-mata untuk dapat masuk kedalam hatimu. Cintaku tulus, namun sakit kututupi dengan topeng senyum gembira, dimana aku selalu mencoba ada menemani kesendirianmu, mensupportmu walau tak layak, mencoba ada disetiap detik kau membutuhkan sandaran untuk hanya sekedar mengobrol walaupun absurd atau geje. Semua kulakukan semata-mata untuk dapat bisa masuk kedalam hatimu.
            Tragis memang, pada akhirnya kisah cinta ku bersama Citra pada masa lalu, kembali terulang kini. Kuharapkan sejuta pengharapan untuk bersama mu Rain, walaupun aku harus memaksa diriku mundur karena statusmu juga sifat ketidakpastianmu. Jujur saja, kuterima awal kau menolak diriku untuk masuk ke kehidupanmu, kutahan sejuta tusukan dari orang-orang yang mengabarkan kebahagiaanmu dengan Slamii, kutahan rasa kecewa juga rasa ingin pergi darimu. Karena, ada Ave yang juga menopang diriku untuk tetap menunggu dirimu, karena sebuah Janji, janji dimana aku dapat membahagiakan dirimu, Rain.
            Dan, kini kuputuskan, kebahagiaanmu dapat tercapai bilamana aku pergi jauh meninggalkanmu. Dimana ku harus bisa dan dapat menerima kekecewaan yang kutelan sejak awal berusaha mengenal dirimu. Wahai Asap yang mengepul! Wahai Hujan yang akan segera turun….biarkanlah Pelangi itu datang menerangi bumi, mengindahkan seisinya dengan coretan garis penuh warna yang Tuhan berikan untuk bumi ini, biarkan Rain bahagia bersama orang yang ia pilih, biarkan Pelangi itu memberikan kecerahannya, keserasiannya dan keantiannya akan perbedaan untuk diri Rain yang kucinta. Biarkan aku, Jimi sang pengganti melihatnya bahagia, mengarungi hujan yang sulit dan merangkul senang bersama pilihannya menikmati Pelangi yang indah.
            Biarkan Rain mendapatkan sejuta harapan juga cahaya pengharapan akan Cinta juga kasih yang tulus dan ikhlas dan biarkan usaha ku membangun jembatan pemersatu yang indah bernama Tulip itu hilang dan kandas. Semoga kau bahagia bersama pilihanmu, Rain. Semoga…aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu. Selamat tinggal Cinta.


ASAP BUSUR HUJAN bermakna, bahwa Jimi (Asap) dan Rain (Hujan) tidak selamanya membiarkan keindahan Busur Hujan (Pelangi) menjadi sandaran dimana mereka bersatu dan bersama, doa, rasa kasih sebagai sahabat bisa menjadi jawaban misteri juga teka-teki dari ASAPBUSURHUJAN yang sakral. Kekuatan cinta yang Maha Dahsyat, yang sebelumnya tak pernah terpikir oleh saya, Dwi. Setelah sejuta fenomena alam, fenomena cinta, fenomena putus asa yang saya telan. Cerita ASAPBUSURHUJAN berakhir pada titik klimaks, dimana ASAP tidak akan membiarkan BUSUR HUJAN tidak muncul untuk mengindahkan bumi. ASAP berusaha apapun keputusannya, BUSUR HUJAN harus tetap hadir menghibur hati para manusia yang sepi, walau ASAP hanya dapat menjadi motor kemunculan BUSUR HUJAN.
Dan, inilah akhir dari serial ASAP BUSUR HUJAN. Sampai berjumpa dilain waktu, juga dilain tulisan.