Jumat, 04 Juli 2014

Sebuah Cerita: MUMAS (Musyawarah Mahasiswa)



MUMAS (Musyawarah Mahasiswa)

“Sesuatu yang dirasa tidak nyaman, akan selalu dirasa tidak nyaman ketika tidak pernah mencoba untuk merasakan ketidaknyamanan tersebut, yang mungkin akan memunculkan sebuah kenyamanan yang tak terduga.”

            Wayungyang Rarasati lebih akrab dipanggil Raras baru saja mengakhiri sebuah perkuliahan.  Ia adalah seorang mahasiswi jurusan Pendidikan Sejarah di sebuah Universitas berlabel Pendidikan di bilangan Setiabudhi. Ia baru saja memikirkan bagaimana rasanya menjadi Guru nanti? Tiba-tiba sahabat nya Dewi datang mengajaknya makan siang.
            Dalam perjalanan menuju kedai makanan Dewi sedikit membicarakan tentang MUMAS (Musyawarah Mahasiswa) yang akan diselenggarakan oleh himpunan. Raras terlihat bingung ketika Dewi membicarakan hal tersebut, karena ia merasa hal tersebut kurang menarik perhatiannya. Setibanya di kedai makanan mereka langsung dengan sigap memesan hidangan santap siang di hari yang cukup mendung.
            Setelah santap siang mereka memutuskan untuk berpisah. Dewi yang berasal dari luar kota langsung kembali pulang menuju kontrakannya. Raras tinggal di daerah pinggiran kota dan jarak dari kampus  ke rumahnya sekitar tigapuluh menit bila ditempuh menggunakan kendaraan bermotor. Rumah Raras bagaikan sebuah oasis ditengah padang pasir, karena keindahan pesona alam sekitar rumahnya.
            Kini awal bulan Juni dimana umat muslim akan segera melaksanakan ibadah puasa di akhir juni, serta mahasiswa baru yang lolos SNMPTN akan segera datang untuk menjadi bagian dari kampus Raras. Cuaca mulai tidak karuan, terkadang cerah dan terkadang mendung bahkan hujan.  Raras sangat antusiai karena ia akan segera menyelesaikan semester dua perkuliahannya.
             Ketika sampai di rumah, ia langsung menuju kamarnya dan memikirkan beberapa kemungkinan dari perkataan Dewi siang tadi. Ia memikirkan apa sih MUMAS? Apa yang akan terjadi disana? Apakah akan serupa dengan apa yang ia rasakan di Sidang LDKM (Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa) atau akan jauh lebih tidak menyenangkan dari itu? Ia terus memikirkannya hingga terlelap.
            Raras memang pernah mengalami hal kurang menyenangkan ketika mengikuti sebuah acara di Himpunan Pendidikan Sejarah di kampusnya itu. Temannya Arnelita mengalami luka dikepala nya setelah dilempar botol oleh entah siapa, seseorang yang ada di acara tersebut ketika lampu dimatikan. Hal tersebut sedikit mengganggu pikiran Raras untuk ikut serta dalam kegiatan Himpunan Sejarah.
            Hari ini hari Jumat, di sore hari Raras biasa latihan piano di sebuah tempat les musik di bilangan Gatot Subroto. Ia sedikit banyak menanyakan tentang musyawarah mahasiswa kepada temannya yang sedang studi di tingkat tiga. Jawaban dari temannya itu cukup simple.
“Mumas, ya cuman mumas, ras. Seru lho, kamu bakal ngerasain yang namanya duduk di kursi fraksi kalo mau. Atau Cuma duduk menyimak di kursi peninjau. Ya, kayak anggota dewan gitu. Gausah takut, seru kok. Kalo di kampus aku sih, emang formal keadaannya, tapi bukan masalah kok.”
Setelah mendapatkan jawaban yang mantap dari temannya itu, Raras kembali memikirkan untuk datang ke Mumas. Dengan harapan apa yang dikatakan temannya itu benar adanya, dan keraguan itu harus ia jawab dengan datang ke mumas dan merasakannya. Akhirnya, dengan tekad yang bulat ia menyediakan diri untuk datang ke mumas hari pertama keesokan harinya.
Dengaan perasaan yang campur aduk gak karuan, Raras tiba di area parkir dan bergegas menuju gedung University Center untuk mengikuti Mumas yang pertama dalam hidupnya. Awalnya perasaan tegang dan gak keruan itu terus hinggap, namun ketika acara demi acara di awal mumas berjalan, ia tidak merasa gundah lagi. Malahan ia merasa senang dan tenang di dalam ruangan mumas.
Yang disayangkan oleh Raras adalah, ketika ia tidak duduk di kursi fraksi. Hanya ikut menyimak keseruan mumas di kursi peninjau. Ya, ia merasa belum siap, dan demi menghargai para pria yang memang seharusnya terlebih dahulu duduk di kursi fraksi itu, disusul dirinya bila kesempatan datang menghampiri.
Hari peretama dan kedua mumas telah ia lewati. Akhirnya di sidang pleno kedua, ia mendapat kesempatan untuk duduk di kursi fraksi bersama empat orang teman lainnya yang notabene laki-laki. Ia duduk di fraksi bersama Deni, Rino, Arif dan Muhammad. Perasaan tegang memang ia rasakan karena seorang wanita sendirian di fraksi angkatan baru. Dan keadaan fraksi lain diisi pria-pria jantan, meski ada satu fraksi diisi satu kursi oleh wanita pula.
Mumas pleno kedua ini dirasa cukup berat bagi Raras yang seorang wanita. Ia merasakan yang namanya dinginnya malam di setiabudhi, ia juga merasakan yang namanya telat makan dan gangguan asap rokok dari para anggota fraksi yang mengikuti sidang mumas. Jawaban dari pertanyaan yang diragukan oleh Raras pada awal ia diajak mumas, sedikit-banyak mulai terjawab.
Sejauh ia mengikuti mumas, ia merasakan aura yang berbeda. Hal berbeda itu seperti apa yang ia rasakan di LDKM tidak terulang di mumas ini, dan juga apa yang ia takutkan akan kegalakan dan jahilnya kakak-kakak tingkatnya sama sekali tidak terjadi. Ia merasakan yang namanya rasa kekluargaan juga ketenangan, meski ia ada di dalam tekanan, karena sebagai anggota fraksi. Fraksi harus lebih vokal dan kritis terhadap draft yang sedang dibahas.
Mumas pleno kedua baru saja berakhir. Raras yang merasa kurang enak badan memutuskan untuk bermalam di kontrakan Dewi. Ia menceritakan pengalaman yang ia dapat di mumas kepada Dewi. Dewi yang pada saat itu hanya mengikuti mumas beberapa kali dan belang betong pun mulai berpikir untuk rajin mengikuti mumas. Rasa itu muncul ketika Raras yang awalnya meragukan acara itu, serta merasa aneh juga kepada Dewi, karena Dewi yang mengajaknya, tetapi Dewi sendiri yang jarang datang ke mumas. Walaupun datang Dewi hanya duduk, dan rekor duduk terlama Dewi hanya selama tiga jam. Raras mulai sedikit kesal juga dengan sikap Dewi, namun Raras ditenangkan dengan pengalaman berharga yang ia dapat ketika mumas. Apalagi, ia mendapat kesempatan untuk duduk di kursi fraksi, ya walau hanya sekali.
Raras yang merasa stigma yang tertanam pada dirinya mengenai mumas sudah terpatahkan dengan pengalamannya terjun langsung ke dalam acara itu. Akhirnya, Raras dengan segenap rasa bahagia tanpa kecewa, meski di beberapa kesempatan ia kurang senang mengikuti mumas karena gangguan dari para lelaki yang menggoda nya.
Pada akhirnya Raras memutuskan untuk menuliskan pengalaman yang ia dapatkan itu di blog pribadinya. Secara garis besar tulisan di blog nya itu berisikan statement-statement matang tentang mumas. Secara jelas ia tulis di akun blog pribadinya seperti ini:

“Mumas merupakan bagian dari Forum Tertinggi Himpunan, karena itu gak seharusnya kita yang ‘masih baru’ di tempat ini untuk selalu takut dan gak pernah mencoba sesuatu yang dirasa berat. Tanpa adanya usaha untuk mencoba dan ‘tersesat’ kita gak akan dapetin sebuah warna baru dalam hidup, sebuah kesempatan dimana hal yang kita rasa gak menyenangkan, buang-buang waktu, dsb akan dirasa menyenangkan dan menagih.
Lewat event-event kayak mumas, aku secara pribadi ngerasain yang namanya rasa Keluarga, rasa kasih dari kakak tingkat ke adik tingkat. Sebuah kesempatan langka dimana aku bisa kenal dan terus silaturahmi dengan kakak-kakak yang jauh diatas kita, kenal dengan angkatan 2007, 2008, 2009, 2010 hingga mengenal lebih jauh sifat dan sikap dari angkatan 2012, dimana nantinya kita akan menjadi pengurus magang membantu mereka mengurus himpunan yang sudah mencapai angka setengah abad lebih ini.
Di mumas, di dalam forum tertinggi himpunan kita, disitulah tempat kita belajar berorganisasi, belajar tertib administrasi, belajar untuk tidak mengulang kesalahan, belajar untuk saling menghargai pendapat orang lain, pengalaman berharga dimana pada akhirnya kita bisa saling sapa, bercanda dengan angkatan diluar angkatan kita. Inget temen-temen, buat temen-temen yang gak dapetin pengalaman ini di mumas, sayang banget temen-temen udah dengan ikhlas dan senang hati dimarah-marah, dihukum hingga dilantik jauh-jauh, kedinginan, kelaparan karena koki yang kurang mahir memasak dsb.
Temen-temen kalo emang mau berontak ya total, jangan manut-manut tapi pada akhirnya menolak dengan tegas. Temen-temen jangan hanya manggut-manggut nurut, kalo emang dirasa temen-temen kepaksa buat ikut di himpunan ini, lebih baik temen-temen sejak dulu berontak, kayak teman kita. Gausah disebut namanya, takut pencemaran nama baik, haha. Ya, pokoknya kayak gitu. Nyesel yang gak ngerasain mumas kemarin, aku berani taruhan. Yang ikut mumas dengan yang gak ikut mumas, pengalaman hidupnya plus satu buat yang ikut mumas, karena emang seru, gak ada sakit-sakitan, gak ada hinaan, dsb. Disana all-time happy, funny, kenyang, pokoknya seru kekeluargaannya berasa banget, walau asap rokok mengganggu aku nafas, haha. Sampai jumpa di tulisan aku selanjutnya yaa.”
             
          Begitulah penuturan Wayungyang Rarasati dalam blog pribadinya. Jelas ada banyak sekali nada dalam tulisannya itu, ada senang, sedih hingga penyesalan. Namun semua yang ia tulis kurang lebihnya merupakan apa yang berhasil ia raih dari sebuah pertanyaan yang ia lontarkan, dan dengan berani ia mencoba untuk mencari tahu jawaban dari pertanyaan dalam hidupnya tersebut.
SELESAI
***
Pengenalan makna nama tokok dalam kisah MUMAS (Musyawarah Mahasiswa)
Nama Wayungyang Rarasati sebenarnya saya ambil dari kisah legenda Sangkuriang. Wayungyang sendiri merupakan nama dari Babi Hutan Betina yang meminum air kencing Raja Sungging Perbangkara yang pada akhirnya menyebabkan Wayungyang hamil, dan melahirkan seorang anak perempuan yang cantik jelita Dayang Sumbi (Danghyang) atau nama lainnya adalah Rarasati.

-          Wayungyang > w(b)ayeungyang = perasaan tidak tentram, gundah gulana.
Maknanya:      Seseorang yang masih berada dalam sifat kehewanan tetapi telah mulai bimbang dan menginginkan menjadi seorang manusia seutuhnya (berperikemanusiaan).
-          Rarasati > Raras = perasaan yang sangat halus, > ati = hati, qalbu.
Maknanya:      Hati atau qalbu yang penuh dengan kehalusan budi karena mendapat pancaran sinar Ilahi.
Terjemahan bebas yang saya lakukan dengan mensingkronisasikan kedua nama tersebut menjadi satu. Hasil dari terjemahan yang saya tetaskan adalah:
“Kita masih dalam keadaan bimbang, atau mencari jatidiri dalam organisasi (Wayungyang). Sebenarnya lebih tepat menggunakan kata kemanusiaan ketimbang organisasi, namun dalam penulisan ini, saya bertujuan untuk memunculkan rasa cinta terhadap keorganisasian dalam diri kawan-kawan saya untuk himpunan Sejarah. Hasil yang diperoleh dari pencarian ini, diartikan melalui menjawab pertanyaan dengan mencoba hal yang dipertanyakan (mengikuti MUMAS atau kegiatan lain dalam Himpunan) untuk melahirkan kata hati (Rarasati) kata hati akan menghasilkan dua kemungkinan. Pertama cinta dan mau ikut serta, atau kedua malah makin antipati dan mengesampingkan nilai moral dan kemanusiaan.”

Begitulah kurang lebihnya maksud saya menjadikan tokok Wayungyang Rarasati sebagai tokoh utama dalam cerita MUMAS (Musyawarah Mahasiswa) ini. Cerita ini sebenarnya didedikasikan untuk rekan-rekan seperjuangan saya di Pendidikan Sejarah angkatan 2013. Namun, semoga pesan dari cerita yang saya sampaikan dapat diterima untuk beberapa model kasus yang sama dengan latar dan problem yang berbeda, semoga. Terimakasih atas perhatiannya. Tabik!

“Kalau hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalo kerja sekedar bekerja, kera juga bekerja.” – Buya HAMKA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar